Posted by: syaunarahman | March 17, 2011

HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK ZINA

Dalam fasal ini ada beberapa kejadian yang masing-masing berbeda hukumnya, maka kami

berkata:

1. Apabila seorang perempuan [Gadis atau janda] berzina

kemudian hamil, maka anak yang dilahirkannya adalah anak

zina dengan kesepakatan para ulama, walaupun kemudian

perempuan tersebut dinikahi/tidak dinikahi oleh laki-laki yang

menzinainya.

• Nasab : Dinasabkan kepada ibunya [Misalnya Fulan bin Fulanah atau Fulanah binti

Fulanah], tidak dinasabkan kepada bapak zinanya.

• Hak Waris : Hak waris terputus dengan bapaknya, dia hanya mewarisi ibunya dan

ibunya mewarisinya.

• Hak Perwallian : Seorang anak perempuan dari hasil zina, terputus dengan

perwaliannya dengan bapaknya. Yang menjadi wali nikahnya ialah sultan

(penguasa) atau wakilnya seperti qadli (penghulu)1. Dan tidak wajib bagi bapaknya

memberi nafkah kepada anak yang lahir dari hasil zina2.

• Hubungan Mahram : Tidak terputus. Lebih luasnya lagi bacalah kitab-kitab dibawah

ini:

[1]. Al-Mughni Ibnu Qudamah (Juz 9 hal. 529-530 tahqiq Doktor Abdullah bin

Abdul Muhsin At-Turkiy)

[2]. Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah (Jilid 32, hal. 134-152)

[3]. Majmu Syarah Muhadzdzab (Juz 15 hal. 109-113)

[4]. Al-Ankihatul Faasidah (Hal. 75-79 Abdurrahman bin Abdirrahman Sumailah Al-

Ahsal).

2. Apabila terjadi sumpah li’aan3 antara suami isteri.

• Nasab : Dinasabkan kepada ibunya. Dalam kasus li’aan ini anak dinasabkan kepada

isteri baik tuduhan suami itu benar atau bohong.

• Hak Waris : Hak waris terputus dengan bapaknya, dia hanya mewarisi ibunya dan

ibunya mewarisinya.

• Hak Perwalian : Terputus dengan perwaliannya dengan bapaknya. Yang menjadi

wali nikahnya ialah sultan (penguasa) atau wakilnya seperti qadli (penghulu). Dan

tidak wajib bagi bapaknya memberi nafkah [Fathul baari (no. 5315). Nailul Authar

Juz 7 hal.91 dan seterusnya]

1 Al-Muhalla Ibnu Hazm Juz 10 hal 323 masalah 2013. Al-Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 15 hal. 112.

Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 34/100

2 Tidak wajib maknanya tidak berdosa kalau dia tidak memberi nafkah, akan tetapi tidak juga terlarang

baginya untuk memberi nafkah. Ini berbeda dengan anak dari pernikahan yang shahih, berdosa bagi

seorang bapak kalau dia tidak memberi nafkah kepada anak-anaknya

3 Suami menuduh isterinya berzina atau menafikan anak yang dikandung isterinya di muka

hakim sehingga dilaksanakan sumpah li’aan.

3. Apabila seorang isteri berzina –baik diketahui suaminya [Dan

suaminya tidak menuduh istrinya di muka hakim sehingga tidak

terjadi hukum li’aan] atau tidak- kemudian dia hamil

• Nasab : Dinasabkan kepada suaminya bukan kepada laki-laki yang menzinai dan

menghamilinya berdasarkan sabda Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat tidur dan bagi yang

berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut)” 4

• Hak Waris : Hak waris tidak terputus dengan bapaknya [suami yang istrinya

berzina].

• Hak Perwallian : Tidan terputus dengan perwaliannya dengan bapaknya [suami

yang istrinya berzina]

• Hubungan Mahram : Tidak terputus.

Sedangkan pada kasus di atas tidak terjadi sumpah li’aan meskipun suami mengetahui

bahwa isterinya telah berzina dengan laki-laki lain. Ini disebabkan suami tidak

melaporkan tuduhannya ke muka hakim sehingga tidak dapat dilaksanakan sumpah

li’aan. 5

4. Apabila seorang perempuan berzina kemudian hamil, bolehkah

ia dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya dan kepada siapa

dinasabkan anaknya?

Boleh dia dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya dan menghamilinya

dengan kesepakatan (ijma) para ahli fatwa sebagaimana ditegaskan oleh Imam

Ibnu Abdil Bar yang dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Baari (Juz 9 hal.

157 di bagian kitab nikah bab 24 hadits 5105) 6. Untuk lebih jelasnya lagi marilah kita

ikuti fatwa para ulama satu persatu dari para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

dan seterusnya :

• Fatwa Abu Bakar Ash-Shiddiq

Berkata Ibnu Umar : Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq sedang berada di masjid

tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu Abu Bakar berkata kepada Umar,

“Berdirilah dan perhatikanlah urusannya karena sesungguhnya dia

mempunyai urusan (penting)” Lalu Umar berdiri menghampirinya,

kemudian laki-laki itu menerangkan urusannya kepada Umar,

“Sesungguhnya aku kedatangan seorang tamu, lalu dia berzina dengan

anak perempuanku!?” Lalu Umar memukul dada orang tersebut dan

berkata, “Semoga Allah memburukkanmu! Tidakkah engkau tutup saja

(rahasia zina) atas anak perempuan itu!” Kemudian Abu Bakar

memerintahkan agar dilaksanakan hukum had (didera sebanyak seratus

kali) terhadap keduanya (laki-laki dan perempuan yang berzina).

Kemudian beliau menikahkan keduanya lalu beliau memerintahkan agar

keduanya diasingkan selama satu tahun. [Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hazm

4 Hadits shahih riwayat Bukhari no. 6749 dan Muslim no. 4/171 dari jalan Aisyah dalam hadits yang

panjang. Dan Bukhari no. 6750, dan 6818 dan Muslim 4/171 juga mengeluarkan dari jalan Abu Hurairah

dengan ringkas seperti lafadz di atas

5 Apabila seorang istri berzina atau suami berzina maka nikah keduanya tidak batal (fasakh) menurut

umumnya ahli ilmu (Al-Mughni Juz 9 hal. 565)

6 Baca juga Kitaabul Kaafi fi Fiqhi Ahlil Madinah (Juz 2 hal.542) oleh Imam Ibnu Abdil bar. Tafsir Fathul

Qadir (1/446 tafsir surat An-Nisaa ayat 23) oleh Imam Asy-Syaukani

di kitabnya Al-Muhalla juz 9 hal. 476 dan Imam Baihaqiy di kitabnya Sunanul Kubro

juz 8 hal. 223 dari jalan Ibnu Umar) 7

• Fatwa Umar bin Khaththab

Fatwa Abu Bakar di atas sekaligus menjadi fatwa Umar bahkan fatwa para

shahabat. Ini disebabkan bahwa fatwa dan keputusan Abu Bakar terjadi di hadapan

para shahabat [Al-Muhalla Juz 9 hal 476] atau diketahui oleh mereka khususnya

Umar. Dan semua para shahabat diam menyetujuinya dan tidak ada seorang pun di

antara mereka yang mengingkari fatwa tersebut. Semua ini menunjukkan telah

terjadi ijma di antara para shahabat bahwa perempuan yang berzina kemudian

hamil boleh bahkan harus dinikahkan dengan laki-laki yang menzinainya dan

menghamilinya. Oleh karena itu kita melihat para shahabat berfatwa seperti di atas

di antaranya Umar bin Khaththab ketika beliau menjadi khalifah sebagaimana

riwayat di bawah ini.

Berkata Abu Yazid Al-Makkiy, “Bahwasanya ada seorang laki-laki nikah

dengan seorang perempuan. Dan perempuan itu mempunyai seorang

anak gadis yang bukan (anak kandung) dari laki-laki (yang baru nikah

dengannya) dan laki-laki itupun mempunyai seorang anak laki-laki yang

bukan (anak kandung) dari perempuan tersebut (yakni masing-masing

membawa seorang anak, yang laki-laki membawa anak laki-laki dan yang

perempuan membawa anak gadis). Lalu pemuda dan anak gadis tersebut

melakukan zina sehingga nampaklah pada diri gadis itu kehamilan. Maka

tatkala Umar datang ke Makkah diangkatlah kejadian itu kepada beliau.

Lalu Umar bertanya kepada keduanya dan keduanya mengakui (telah

berbuat zina). Kemudian Umar memerintahkan mendera keduanya

(dilaksanakan hukum had) 8. Dan Umar sangat ingin mengumpulkan di

antara keduanya (dalam satu perkawinan) akan tetapi anak muda itu

tidak mau” [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (7/155) dengan sanad yang shahih]

• Fatwa Abdullah bin Mas’ud

Dari Hammam bin Harits bin Qais bin Amr An-Nakha’i Al-Kufiy, “Dari Hammaam

bin Harits bin Qais bin Amr An-Nakha’i Al-Kufiy dari Abdullah bin Mas’ud

tentang, “Seorang anak laki-laki yang berzina dengan seorang

perempuan kemudian laki-laki itu hendak menikahi perempuan

tersebut?” Jawab Ibnu Mas’ud, “Tidak mengapa yang demikian itu

[Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (7/156) secara mu’allaq dengan sanad yang

shahih]

Dari Al-Qamah bin Qais (ia berkata) : Sesungguhnya telah datang seorang

laki-laki kepada Ibnu Mas’ud, lalu laki-laki itu bertanya, “Seorang lakilaki

berzina dengan seorang perempuan kemudian keduanya bertaubat

dan berbuat kebaikan, apakah boleh laki-laki itu kawin dengan

perempuan tersebut? “ Kemudian Ibnu Mas’ud membaca ayat ini,

“Kemudian sesungguhnya Rabb-mu kepada orang-orang yang

mengerjakan kejahatan dengan kebodohan9, kemudian sesudah itu

mereka bertaubat dan mereka berbuat kebaikan, sesungguhnya Rabb-mu

sesudah itu Maha Pengampun (dan) Maha Penyayang” [An-Nahl : 119]

Berkata Al-Qamah bin Qais, “Kemudian Ibnu Mas’ud mengulang-ulang ayat

7 Baihaqiy meriwayatkan dari jalan yang lain bahwa perempuan tersebut hamil (9/476) lihat juga

Mushannaf Abdurrazzaq (12796)

8 Diriwayatkan Imam Abdurrazzaq (Mushannaf Abdurrazzaq (7/203-204 no. 12793) bahwa Umar

mengundurkan hukuman kepada anak gadis tersebut sampai dia melahirkan

9 Kebodohan disini maksudnya perbuatan maksiat yang dilakukan dengan sengaja. Karena setiap orang

yang maksiat kepada Allah dikatakan jahil (tafsir Ibnu Katsir 2/590)

tersebut berkali-kali sampai orang yang bertanya itu yakin bahwa Ibnu

Mas’ud telah memberikan keringanan dalam masalah ini (yakni beliau

membolehkannya)”. [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (7/156). Kemudian Imam

Baihaqiy (7/156) juga meriwayatkan dari jalan yang lain yang semakna dengna

riwayat di atas akan tetapi di riwayat ini Ibnu Mas’ud membaca ayat): 10 “Dan

Dialah (Allah) yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan

memaafkan dari kesalahan-kesalahan (mereka) dan Dia mengetahui apaapa

yang kamu kerjakan” [Asy-Syura : 25] [Lihat riwayat yang semakna di

Mushannaf Abdurrazzaq (7/205 no. 12798)]

Dalam sebagian riwayat ini terdapat tambahan : Setelah Ibnu Mas’ud membaca

ayat di atas beliau berkata, “Hendaklah menikahinya!”.

• Fatwa Ibnu Umar.

Ibnu Umar pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan

seorang perempuan, apakah boleh dia menikahinya ? Jawab Ibnu Umar,

“Jika keduanya bertaubat dan keduanya berbuat kebaikan (yakni beramal

shalih)” [Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hazm di Al-Muhalla juz 9 hal. 475.

• Fatwa Jabir bin Abdullah

Berkata Jabir bin Abdullah, “Apabila keduanya bertaubat dan keduanya

berbuat kebaikan, maka tidak mengapa (tidak salah dilangsungkan

pernikahan di antara keduanya) –yakni tentang laki-laki yang berzina

dengan seorang perempuan kemudian dia ingin menikahinya-“

[Dikeluarkan oleh Ibnu Hazm (9/475), dikeluarkan juga oleh Imam Abdurrazzaq

(7/202) yang semakna dengan riwayat di atas]

• Fatwa Ibnu Abbas

Berkata Ubaidullah bin Abi Yazid , “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas

tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan

bolehkah dia menikahinya ?” Jawab beliau, “Ya”, karena (nikah itu)

perbuatan halal” [Dikeluarkan oleh Baihaqiy (7/155) dengan sanad yang shahih]

[Al-Mushannaf Abdurrazaq (7/203)]

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas : Tentang seorang laki-laki yang berzina

dengan seorang perempuan kemudian sesudah itu dia menikahinya ?

Beliau berkata, “Yang pertama itu zina sedangkan yang terakhir nikah

dan yang pertama itu haram sedangkan yang terakhir halal” [Dikeluarkan

Baihaqiy (7/155) 11 Dan dalam riwayat yang lain juga dari jalan Ikrimah ada

tambahan, “Tidak salah (yakni menikahinya)]

Berkata Said bin Jubair : Ibnu Abbas pernah ditanya tentang seorang lakilaki

dan seorang perempuan yang masing-masing dari keduanya telah

menyentuh yang lain dengan cara yang haram (yakni keduanya telah

berzina), kemudian nyatalah (kehamilan) bagi perempuan tersebut lalu

laki-laki itu menikahinya? Jawab Ibnu Abbas : “Yang pertama itu zina

sedangkan yang kedua nikah” [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (3/267 dengan

sanad yang hasan)]

Berkata Atha bin Abi Rabah : Berkata Ibnu Abbas tentang laki-laki yang

berzina dengan seorang perempuan, kemudian dia menikahinya, “Yang

10 Imma kejadian ini satu kali dan masing-masing rawi membawakan satu ayat dari dua ayat yang

dibaca Ibnu Mas’ud atau kejadian di atas dua kali. Wallahu a’lam

11 Mushannaf Abdurrazzaq (7/202) maksud perkataan Ibnu Abbas di riwayat 1 s/d 4 ialah bahwa zina

itu haram sedangkan nikah itu halal, maka zina yang haram itu tidak bisa mengharamkan nikah yang

memang halal. Karena sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan sesuatu yang halal

pertama dari urusannya itu adalah zina, sedangkan yang terakhir nikah

[Dikeluarkan Abdul Razzaq 7/202]

Dari Thawus, ia berkata : Diriwayatkan kepada Ibnu Abbas, “Seorang lakilaki

menyentuh perempuan dengan cara yang haram (yakni zina),

kemudian dia menikahinya?” Jawab beliau, “itu baik –atau beliau

mengatakannya- itu lebih bagus” [Dikeluarkan Abdurrazzaq 7/203]

Demikian juga fatwa para Tabi’in seperti Said bin Musayyab, Said bin Jubair, Az-

Zuhri dan Hasan Al-Bashri dan lain-lain Ulama. [Baihaqiy 7/155 dan Abdurrazzaq

7/203-207]

Dari keterangan-keterangan di atas kita mengetahui:

a. Telah terjadi ijma Ulama yang didahului oleh ijmanya para shahabat tentang

masalah bolehnya perempuan yang berzina kemudian hamil dinikahi oleh laki-laki

yang menzinai dan menghamilinya.

b. Mereka pun memberikan syarat agar keduanya bertaubat dan berbuat kebaikan

(beramal shalih) dengan menyesal dan membenci perbuatan keduanya.

Adapun mengenai hukuman bagi yang berzina (hukum had) yang melaksanakannya

adalah pemerintah bukan orang perorang atau kelompok perkelompok. Oleh karena di

negeri kita ini sebagaimana negeri-negeri Islam yang lainnya kecuali Saudi Arabia tidak

dilaksanakan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti hukum had dan lain-lain,

ini tidak menghalangi taubatnya orang yang mau bertaubat demikian juga nikahnya dua

orang yang berzina. Cukuplah bagi keduanya bertaubat dan beramal shalih.

Langsungkanlah pernikahan karena yang demikian itu sangat bagus sekali sebagaimana

dikatakan Ibnu Abbas. Bahkan laki-laki yang menzinai dan menghamili seorang

perempuan lebih berhak terhadap perempuan tersebut sebelum orang lain

[Abdurrazzaq (7/206-207)] dengan syarat keduanya mau dan ridha untuk

nikah. Apabila salah satunya tidak mau maka janganlah dipaksa hatta

perempuan tersebut telah hamil [Bacalah kembali riwayat Umar bin

Khaththab]. Ini, kemudian pertanyaan yang kedua kepada siapakah anak

tersebut dinasabkan?

Jawabnya :

Anak tersebut dinasabkan kepada ibunya bukan kepada laki-laki yang

menzinai dan menghamili ibunya (bapak zinanya) walaupun akhirnya lakilaki

itu menikahi ibunya dengan sah. Dan di dalam kasus seperti ini –di mana

perempuan yang berzina itu kemudian hamil lalu dinikahi laki-laki yang

menzinai dan menghamilinya- tidak dapat dimasukkan ke dalam keumuman

hadits yang lalu yaitu : “Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat

tidur (suami yang sah) dan bagi yang berrzina tidak mempunyai hal apapun

(atas anak tersebut)”. Ini disebabkan karena laki-laki itu menikahi

perempuan yang dia zinai dan dia hamili setelah perempuan itu hamil bukan

sebelumnya, meskipun demikian laki-laki itu tetap dikatakan sebagai bapak

dari anak itu apabila dilihat bahwa anak tersebut tercipta dengan sebab air

maninya akan tetapi dari hasil zina. Karena hasil zina inilah maka anak

tersebut dikatakan sebagai anak zina yang bapaknya tidak mempunyai hak

apapun atasnya dari hal nasab, waris, dan kewalian dan nafkah sesuai

dengan zhahirnya bagian akhir dari hadits diatas yaitu : “…. Dan bagi (orang)

yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut)”.

Berbeda dengan anak yang lahir dari hasil pernikahan yang sah, maka nasabnya kepada

bapaknya demikian juga tentang hukum waris, wali dan nafkah tidak terputus sama

sekali. Karena agama yang mulia ini hanya menghubungkan anak dengan bapaknya

apabila anak itu lahir dari pernikahan yang sah atau lebih jelasnya lagi perempuan itu

hamil dari pernikahan yang sah bukan dari zina. Wallahu a’lam 12

Sebagian orang di negeri kita ini ada yang mengatakan : Tidak boleh

perempuan yang hamil lantaran zina itu dinikahi hatta oleh laki-laki yang

menzinai atau menghamilinya sampai perempuan itu melahirkan berdasarkan

keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan perempuan-perempuan

yang hamil itu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan” [Ath-Thalaq : 4]

Kami jawab ; Cara pengambilan dalil seperti di atas sama sekali tidak tepat

dalam menempatkan keumuman ayat dan cenderung kepada pemaksaan

dalil.

Pertama : Ayat di atas untuk perempuan yang hamil dari hasil nikah bukan

untuk perempuan-perempuan yang hamil dari hasil zina. Karena di dalam

nikah itu terdapat thalaq, nafkah, tempat tinggal, ‘iddah, nasab, waris dan

kewalian. Sedangkan di dalam zina tidak ada semuanya itu termasuk tidak

adanya ‘iddah. Inilah perbedaan yang mendasar antara pernikahan dengan

perzinaan. Ayat di atas tetap di dalam keumumannya terhadap perempuan-perempuan

yang hamil yang dithalaq suaminya maka ‘iddahnya sampai dia melahirkan sesuai

keumuman ayat di atas meskipun ayat yang lain (Al-Baqarah : 234) menegaskan bahwa

perempuan-perempuan yang kematian suaminya ‘iddahnya empat bulan sepuluh hari.

Akan tetapi perempuan tersebut ketika suaminya wafat dalam keadaan hamil maka

keumuman ayat di ataslah yang dipakai. Atau ayat di atas tetap di dalam keumumannya

oleh sebagian ulama terhadap perempuan yang berzina lalu hamil kemudian dinikahi

oleh laki-laki yang bukan menghamilinya sebagaimana akan datang keterangannya di

kejadian kelima. Wallahu a’lam.

Kedua : Telah terjadi ijma’ Shahabat bersama para ulama tentang bolehnya

bagi seorang laki-laki menikahi perempuan yang dia hamili lantaran zina.

Bacalah kembali keterangan-keterangan kami di muka mengiringi apa yang telah

dikatakan oleh Imam Ibnu Abdil Bar bahwa dalam hal ini telah terjadi ijma’ ulama. Dan

anehnya tidak ada seorang pun di antara mereka yang berdalil dengan ayat di atas

untuk melarang atau mengharamkannya kecuali setelah perempuan itu melahirkan

anaknya ?

Apakah kita mau mengatakan bahwa kita lebih pintar cara berdalilnya dari para

Shahabat dan seterusnya?

5. Apabila seorang perempuan berzina kemudian dia hamil, maka

bolehkan dia dinikahi oleh laki-laki yang tidak menghamilinya?

Dan kepada siapakah dinasabkan anaknya?

Madzhab Syafi’I dan Hanafi : Boleh dan halal dinikahi dengan alasan bahwa

perempuan tersebut hamil karena zina bukan dari hasil nikah. Abu Hanifah

mensyaratkan tidak boleh disetubuhi sampai perempuan tersebut

melahirkan. Sebagaimana kita ketahui bahwa syara’ (agama) tidak menganggap sama

sekali anak yang lahir dari hasil zina seperti terputusnya nasab dan lain-lain

sebagaimana beberapa kali kami jelaskan di muka. Oleh karena itu halal baginya

menikahinya dan menyetubuhinya tanpa harus menunggu perempuan tersebut

melahirkan anaknya.

Madzhab Hambali dan Maliki : Haram dinikahi sampai perempuan tersebut melahirkan,

12 Fatawa Islamiyyah (Juz 2 hal.353 dan 354, 374-375). Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

(32/134-142). Al-Mughni Ibnu Qudamah (Juz 9 hal.529-530). Al-Muhalla (Juz 10 hal.323) Fathul Baari

(Syarah hadits no. 6749). Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nisaa ayat 23. Dan lain-lain

beralasan kepada beberapa hadits :

Hadits Pertama.

Dari Abu Darda dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau

pernah melewati seorang perempuan [Perempuan ini adalah seorang

tawanan perang yang tertawan dalam keadaan hamil tua] yang sedang hamil

tua sudah dekat waktu melahirkan di muka pintu sebuah kemah. Lalu beliau

bersabda, “Barangkali dia13 (yakni laki-laki yang memiliki tawanan14

tersebut) mau menyetubuhinya!?”. Jawab mereka, “Ya”. Maka bersabda

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku berkeinginan

untuk melaknatnya dengan satu laknat yang akan masuk bersamanya ke

dalam kuburnya15 bagaimana dia mewarisinya padahal dia tidak halal

baginya, bagaimana dia menjadikannya sebagai budak padahal dia tidak halal

baginya!?” 16 [Hadits Shahih riwayat Muslim 4/161]

Hadits Kedua

“Dari Abu Said Al-khudriy dan dia memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tawanantawanan

perang Authaas [Authaas adalah satu tempat di Thaif], “Janganlah

disetubuhi perempuan yang hamil sampai dia melahirkan dan yang tidak

hamil sampai satu kali haid” [Hadits riwayat Abu Dawud (no.2157), Ahmad (3/28,

62, 87) dan Ad-Darimi (2/171)]

Hadits Ketiga

“Dari Ruwaifi Al-Anshariy –ia berdiri di hadapan kita berkhotbah-, ia berkata : Adapaun

sesungguhnya aku tidak mengatakan kepada kamu kecuali apa-apa yang aku

dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada hari Hunain,

beliau bersabda, “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan

hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman [Ke rahim orang lain

yang telah membuahkan anak] orang lain –yakni menyetubuhi perempuan

hamil- [Penjelasan ini imma dari Ruwaifi atau dari yang selainnya] Dan tidak

halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk

menyetubuhi perempuan dari tawanan perang sampai perempuan itu bersih.

Dan tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk

mejual harta rampasan perang sampai dibagikan. Dan barang siapa yang

beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menaiki kendaraan

13 Disini ada lafadz yang hilang yang takdirnya beliau bertanya tentang perempuan tersebut dan

dijawab bahwa perempuan tersebut adalah tawanan si Fulan

14 Hadits yang mulia ini salah satu dalil dari sekian banyak dalil tentang halalnya menyetubuhi tawanan

perang meskipun tidak dinikahi. Karena dengan menjadi tawanan dia menjadi milik orang yang

menawannya atau milik orang yang diberi bagian dari hasil ghanimah (rampasan perang) meskipun dia

masih menjadi istri orang (baca ; orang kafir). Maka dengan menjadi tawanan fasakhlah (putuslah)

nikahnya dengan suaminya. (Baca Syarah Muslim Juz 10. hal.34-36)

15 Hadits yang mulia ini pun menjadi dalil tentang haramnya menyetubuhi tawanan perang yang hamil

sampai selesai iddahnya yaitu sampai ia melahirkan dan yang tidak hamil ber’iddah satu kali haid

sebagaimana ditunjuki oleh hadits yang kedua insya Allah.

Berdasarkan hadits yang mulia ini madzhab yang kedua mengeluarkan hukum tentang haramnya

menikahi dan menyetubuhi perempuan yang hamil oleh orang lain sampai ia melahirkan.

16 Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana dia mewarisinya … dan seterusnya”, yakni

bagaimana mungkin laki-laki itu mewarisi anak yang dikandung oleh perempuan tersebut padahal anak

itu bukan anaknya. Dan bagaimana mungkin dia menjadikan anaknya itu sebagai budaknya padahal

anak itu bukan anaknya. Wallahu a’lam.

dari harta fa’i17 kaum muslimin sehingga apabila binatang tersebut telah

lemah ia baru mengembalikannya. Dan barang siapa yang beriman kepada

Allah dan hari akhir maka janganlah ia memakai pakaian dari harta fa’i kaum

muslimin sehingga apabila pakaian tersebut telah rusak ia baru

megembalikannya” [Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 2158 dan 2150) dan Ahmad

(4/108-109) dengan sanad Hasan]

Dan Imam Tirmidzi (no. 1131) meriwayatkan juga hadits ini dari jalan yang lain dengan

ringkas hanya pada bagian pertama saja dengan lafadz, “Barangsiapa yang beriman

kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia menyiramkan air (mani)nya ke anak

orang lain (ke anak yang sedang dikandung oleh perempuan yang hamil oleh orang

lain)”.

Madzhab yang kedua ini lebih kuat dari madzhab yang pertama dan lebih mendekati

kebenaran. Wallahu a’lam.

Adapun masalah nasab anak dia dinasabkan kepada ibunya tidak kepada lakilaki

yang menzinai dan menghamili ibunya dan tidak juga kepada laki-laki

yang menikahi ibunya setelah ibunya melahirkannya. Atau dengan kata lain dan

tegasnya anak yang lahir itu adalah anak zina!

Bacalah dua masalah di kejadian yang ke lima ini di kitab-kitab.

[1]. Al-Mughni Ibnu Qudamah Juz 9 hal. 561 s/d 565 tahqiq Doktor Abdullah bn Abdul

Muhsin At-Turkiy.

[2]. Al-Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 15 hal. 30-31

[3]. Al-Ankihatul Faasidah (hal. 255-256])

[4]. Fatawa Al-Islamiyyah Juz 2 halaman 353-354 dan 374-375 oleh Syaikh bin Baaz dan

Syaikh Utsaimin dan lain-lain.

6. Apabila terjadi akad nikah yang fasid (rusak) atau batil yaitu

setiap akad nikah yang telah diharamkan syara’ (agama) atau

hilang salah satu dari rukunnya sehingga akad nikah tersebut

tidak sah seperti :

Nikah dengan mahram 18

Nikah dengan ibu susu atau saudara sepersusuan

Nikah dengan istri bapak atau istri anak atau mertua atau

dengan anak tiri

Nikah mu’tah

Nikah lebih dari empat orang istri

Nikah dengan istri orang lain

Nikah dengan perempuan yang sedang ‘iddah

Nikah seorang muslim dengan wanita selain dari wanita ahlul

kitab (Yahudi dan Nashara)

Nikah tanpa wali

Nikah sir (rahasia) tanpa saksi

Mengumpulkan dua orang bersaudara dalam satu

perkawinan

17 Harta fa-i harta yang didapat oleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa peperangan. Akan

tetapi imam kaum kuffar menyerah sebelum berperang atau mereka melarikan diri meninggalkan hartaharta

mereka

18 Mahram ialah setiap perempuan yang haram dinikahi seperti ibu, saudara, anak, bibi, dan lain-lain

Mengumpulkan seorang perempuan dengan bibinya dalam

satu perkawinan

Dan lain-lain dari perkawinan yang rusak menurut agama. [Baca

Al-Ankihatul Faasidah]

Maka apabila keduanya tidak mengetahui fasid dan batilnya akad keduanya, maka

keduanya tidak berdosa dan tidak dikenakan hukuman dan anak dinasabkan kepada

bapaknya seperti pernikahan yang sah meskipun keduanya langsung dipisahkan karena

fasidnya akad keduanya. Dan disamakan dengan orang yang tidak mengetahui yaitu

orang yang mendapat fatwa tentang sahnya nikah yang fasid dan batil tersebut

sebagaimana banyak terjadi pada zaman kita sekarang ini khususnya mengenai nikah

mut’ahnya kaum Syi’ah rafidhah [Bacalah risalah kami tentang masalah ini dengan judul

Nikah Mut’ah = Zina]. Adapun apabila mereka telah mengetahui tentang fasid dan

batilnya akad nikah tersebut, maka tidak syak lagi tentang dosanya dan wajib bagi

mereka dikenakan hukuman kemudian anak tidak dinasabkan kepada bapaknya.

Masalah : Bagaimana hukumnya apabila yang mengetahui tentang haramnya

perkawinan tersebut hanya salah satu pihak, imam pihak laki-laki atau pihak

perempuan?.

Jawabanya : Maka hukumnya terkena kepada yang mengetahui tidak kepada

yang tidak mengetahui. Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak laki-laki,

maka dia berdosa dan dikenakan hukuman dan anak tidak dinasabkan

kepadanya. Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak perempuan, maka

dia yang berdosa dan dikenakan hukuman kepadanya dan anak tetap

dinasabkan kepada bapaknya (pihak laki-laki). Wallahu a’lam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: