FORM : 02/8.2.3 / KUR

FORMAT KISI-KISI PENULISAN SOAL

SATUAN PENDIDIKAN : SMK NEGERI 48 JAKARTA

KOMPETENSI KEAHLIAN : XI PM 1, XI PM 2, XI MM, dan XI TP 4

MATA PELAJARAN : Pendidikan Agama Islam Semester : IV (Empat)

ALOKASI WAKTU : 60 Menit

JUMLAH SOAL : 25 Pilihan Ganda dan 5 Essay

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

1.

Memahami Ayat-ayat Al Qur’an tentang Perintah Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup

Membaca QS Ar Ruum {30} : 41-42, Al A’raf {7} : 56-58, dan Shaad {38} : 27

· Membaca dengan fasih dan benar QS Ar Ruum {30} : 41-42, Al A’raf {7} : 56-58, dan Shaad {38} : 27

· Peserta didik dapat memilih lanjutan bacaan Q.S. Ar Ruum ; 41

· Peserta didik dapat memilih lanjutan bacaan Q.S. Al A’raaf ; 57

PG

1, 2

 

Membaca QS Ar Ruum {30} : 41-42, Al A’raf {7} : 56-58, dan Shaad {38} : 27

· Menjelaskan penerapan Ilmu Tajwid QS Ar Ruum {30} : 41-42, Al A’raf {7} : 56-58, dan Shaad {38} : 27

· Peserta didik dapat memilih hukum bacaan tajwid yang terdapat dalam Q.S. Ar Ruum {30}; 41 pada bacaan ikhfä syafawȉ

· Peserta didik dapat memilih hukum bacaan QS Al A’raaf {7} : 57 pada bacaan mad ‘iwadl

· Peserta didik dapat memilih hukum bacaan QS Shaad {38} : 27 pada bacaan mad ashlȉ

PG

3,4,5

 

Menjelaskan isi

· Menjelaskan isi

· Peserta didik dapat menentukan

PG

6

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

 

kandungan QS Ar Ruum {30} : 41-42, Al A’raf {7} : 56-58, dan Shaad {38} : 27

kandungan QS Ar Ruum {30} : 41-42, Al A’raf {7} : 56-58, dan Shaad {38} : 27

contoh perilaku ciri kerusakan yang menimpa manusia pada bidang intelektual

   

2.

Meningkatkan Keimanan kepada Kitab-kitab Allah SWT

Menjelaskan makna iman kepada Kitab-kitab Allah SWT

· Menyebutkan dalil naqli iman kepada Kitab-kitab Allah SWT

· Peserta didik dapat menunjukkan maksud dari dalil naqli tentang Kitab Allah

PG

7

   

· Menjelaskan pengertian iman kepada kitab-kitab Allah SWT

· Peserta didik dapat menentukan Rasul yang mendapat Shuhuf

PG

8

   

· Menjelaskan kedudukan dan fungsi iman kepada Kitab-kitab Allah SWT

· Peserta didik dapat memilih identifikasi hubungan Al Qur’an dengan Kitab sebelumnya

PG

9

3.

Membiasakan Perilaku Terpuji

Menjelaskan makna menghargai karya orang lain

· Menjelaskan pengertian dan makna menghargai karya orang lain

· Peserta didik dapat memilih maksud kandungan hadits yang mendorong seseorang berkarya

PG

10

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

   

· Peserta didik dapat menunjukkan hak yang dapat diperoleh bagi orang yang mempunyai hak cipta

PG

11

Menampilkan contoh perilaku menghargai karya orang lain

· Membiasakan berperilaku menghargai karya orang lain dalam kehidupan sehari-hari

· Peserta didik didik dapat menunjukkan cara menghargai karya orang lain

· Peserta didik dapat memilih cara menggunakan (memanfaatkan) karya orang lain

PG

12, 13

4.

Menghindari Perilaku Tercela

Menjelaskan pengertian dosa besar

· Menjelaskan pengertian dan macam-macam dosa besar

· Peserta didik dapat menentukan pengertian dosa yang diambil dari istilah kata yang disebutkan Al Qur’an

PG

14

   

· Peserta didik dapat menentukan macam-macam dosa besar yang disebutkan dalam salah satu Hadits Nabi SAW

PG

15

   

· Peserta didik dapat menentukan salah satu macam syirik

PG

16

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

Menghindari perbuatan dosa besar dalam kehidupan sehari-hari

· Mengidentifikasi dan menghindari perilaku dosa besar

· Peserta didik dapat menentukan hukuman akibat melakukan perampokan (menurut Syari’at Islam)

PG

17

5.

Memahami Ketentuan Hukum Islam tentang Pengurusan Jenazah

Memahami ketentuan hukum Islam tentang pengurusan jenazah

· Menjelaskan makna pengurusan dan kewajiban muslim ketika ada orang meninggal

· Peserta didik dapat menunjukkan hukum dalam pengurusan jenazah

PG

18

Memperagakan tata cara pengurusan jenazah

· Menjelaskan tata cara memandikan jenazah

· Peserta didik dapat memilih ketentuan hukum bagi yang meninggal karena mati syahid

PG

19

 

· Menjelaskan tata cara mengkafani jenazah

· Peserta didik dapat memilih ketentuan tata cara mengkafani jenazah perempuan

PG

20

 

· Menjelaskan tata cara menshalatkan jenazah

· Peserta didik dapat menentukan posisi berdiri pada shalat jenazah perempuan

· Peserta didik dapat menuliskan lafadz do’a dalam shalat jenazah

PG

ESSAY

21

1

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

6.

Memahami Khutbah, Tabligh dan Dakwah

Menjelaskan pengertian khutbah, tabligh dan dakwah

· Menjelaskan makna khutbah, syarat khatib, dan syarat-syarat khutbah

· Peserta didik dapat menentukan syarat-syarat khatib

PG

22

 

· Menjelaskan rukun, sunnah khutbah, dan adab Shalat Jum’at

· Peserta didik dapat menyebutkan rukun khutbah Jum’at

ESSAY

2

 

· Menjelaskan makna, syarat dan metode dakwah

· Peserta didik dapat menentukan syarat seorang juru dakwah /da’i

PG

23

 

· Membedakan khutbah, tabligh dan dakwah

· Peserta didik dapat menuliskan perbedaan khutbah, tabligh, dan dakwah

ESSAY

3

7.

Memahami Perkembangan Islam pada Masa Modern

Menjelaskan perkembangan Islam pada masa modern

· Menceritakan sejarah perkembangan Islam pada Masa Modern membangkitkan kembali kejayaan Islam

· Peserta didik dapat menuliskan salah satu hasil pemikiran pembaharuan Islam (yaitu ; pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab atau faham Wahhabi)

· Peserta didik dapat menunjukkan sejarah salah

ESSAY

PG

4

24

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

   

satu pertumbuhan ormas Islam di Indonesia

   

 

· Menunjukkan keteladanan yang dapat diambil dari perkembangan Islam pada Masa Modern dalam membina kemajuan umat manusia

· Peserta didik dapat menuliskan pemikiran modern umat Islam (pemikir muslim) dalam konsep negara

ESSAY

5

 

· Menyebutkan contoh peristiwa perkembangan Islam pada Masa Modern

· Peserta didik dapat menunjukkan contoh bukti perkembangan Islam pada masa modern

PG

25

Posted by: syaunarahman | June 4, 2011

FORM : 02/8.2.3 / KUR

FORMAT KISI-KISI PENULISAN SOAL

SATUAN PENDIDIKAN : SMK NEGERI 48 JAKARTA

KOMPETENSI KEAHLIAN : X AK 1, X AP 1, X PM 1, X MM dan X TP 4

MATA PELAJARAN : Pendidikan Agama Islam

ALOKASI WAKTU : 60 Menit

JUMLAH SOAL : 25 Pilihan Ganda dan 5 Essay

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

1.

Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang demokrasi

Membaca Q.S. Ali ‘Imrän {3} : 159) , dan Q.S. Asy Syurä {42}: 38

· Menjelaskan penerapan Ilmu Tajwid Q.S. Ali ‘Imrän {3} : 159) , dan Q.S. Asy Syurä {42}: 38

· Peserta didik dapat memilih hukum bacaan Q.S. Ali ‘Imrän {3} : 159) , pada bacaan idghäm bighunnah

· Peserta didik dapat memilih hukum bacaan Q.S. Asy Syurä {42}: 38, pada bacaan qalqalah

· Peserta didik dapat memilih hukum bacaan Q.S. Asy Syurä {42}: 38, pada bacaan iżhär syafawi

PG

1, 2, 3

 

Menyebutkan arti Q.S. Ali ‘Imrän {3} : 159) , dan Q.S. Asy Syurä {42}: 38

· Mengartikan secara harfiah dan ayat Q.S. Ali ‘Imrän {3} : 159) , dan Q.S. Asy Syurä {42}: 38

· Peserta didik dapat menentukan arti harfiah pada Q.S. Asy Syurä {42}: 38

PG

4

 

Menjelaskan isi kandungan Q.S. Ali ‘Imrän {3} : 159) , dan Q.S. Asy Syurä {42}: 38

· Menjelaskan isi kandungan Q.S. Ali ‘Imrän {3} : 159) , dan Q.S. Asy Syurä {42}: 38

· Peserta didik dapat memilih kandungan ayat yang terdapat pada Q.S. Ali ‘Imrän {3} : 159

PG

5

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

2.

Meningkatkan keimanan kepada malaikat

Menjelaskan tanda-tanda beriman kepada malaikat

· Menjelaskan pengertian iman kepada malaikat

· Peserta didik dapat memilih asal kata malaikat

PG

6

 

· Menyebutkan asal kejadian dan tugas malaikat

· Peserta didik dapat memilih pemahaman hadits tentang asal kejadian malaikat

· Peserta didik dapat menentukan tugas malaikat

PG

7, 8

 

Menampilkan contoh-contoh perilaku yang mencerminkan iman kepada malaikat

· Membedakan kedudukan manusia dengan malaikat

· Peserta didik dapat menentukan salah satu kedudukan malaikat

PG

9

3.

Membiasakan perilaku terpuji

Menjelaskan adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu

· Menjelaskan adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu

· Peserta didik dapat memilih fungsi utama berpakaian dalam Islam

· Peserta didik dapat memilih pemahaman hadits tentang cara berpakaian

PG

10, 11

Menampilkan contoh-contoh adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu

· Mengidentikasi dan mem-berikan contoh-contoh adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, berta-mu dan menerima tamu

· Peserta didik dapat memilih contoh cara bertamu yang baik

· Peserta didik dapat menentukan contoh cara yang dianjurkan Nabi SAW ketika etika menghormati tamu

PG

12, 13

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

4.

Menghindari perilaku tercela

Menjelaskan pengertian hasud, riya’, dan dzalim (aniaya)

· Menjelaskan makna hasud, riya’, dan dzalim (aniaya)

· Peserta didik dapat memilih pengertian riya menurut bahasa

· Peserta didik dapat menentukan pengertian hasud menurut Imam Al Ghazali

PG

14, 15

Menghindari perilaku hasud, riya’, dan dzalim (aniaya) dalam kehidupan sehari-hari

· Menghindari perilaku hasud, riya’, dan dzalim (aniaya) dalam kehidupan sehari-hari

· Peserta didik dapat memilih kandungan hadits untuk menghindari bahaya hasud

· Peserta didik dapat menentukan akibat negatif perilaku riya

· Peserta didik dapat menyebutkan perbedaan perbuatan yang didasari ridlo Allah dengan perbuatan yang didasari riya

PG

ESSAY

16, 17

1

5.

Memahami hukum Islam tentang Zakat, Wakaf, Haji, dan Umrah

Menjelankan perundang-undangan tentang pengelolaan zakat, infaq dan shadaqah

· Menjelaskan pengertian zakat, infaq dan shadaqah

· Peranan ZIS dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mustahik zakat

· Peserta didik dapat memilih pengertian infaq menurut bahasa

· Peserta didik dapat menyebutkan mustahiq zakat

PG

ESSAY

18

2

 

· Menjelaskan kedudukan dan kewajiban zakat

· Peserta didik dapat memilih salah satu kedudukan zakat bagi umat Islam

PG

19

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

Menjelaskan ketentuan, pelaksanaan dan perundang-undangan tentang pengelolaan haji dan umrah

· Menjelaskan pengertian,

syarat dan rukun haji dan umrah

· Peserta didik dapat memilih hal-hal yang dimaksud dalam pengertian istitha’ah sebagai salah satu syarat wajib haji

PG

20

 

· Menjelaskan Rukun dan Wajib haji dan umrah

· Peserta didik dapat memilih waktu wukuf dalam pelaksanaan haji

· Peserta didik dapat menentukan yang membedakan antara rukun dan wajib haji

PG

21, 22

Menyebutkan macam-macam cara melaksanakan haji dan umrah

· Menyebutkan cara yang benar dalam melaksanakan haji dan umrah

· Peserta didik dapat menjelaskan 3 macam cara melaksanakan haji dan umrah

ESSAY

3

6.

Memahami keteladanan Rasulullah Saw dalam membina umat pada periode Madinah

Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah Saw periode Madinah

· Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah Saw pada periode Madinah.

· Peserta didik dapat memilih waktu yang berlaku pemboikotan kepada Nabi sebelum hijrah ke Madinah

· Peserta didik dapat memilih isi perjanjian Aqabah 2 sebelumpelaksanaan hijrah ke Madinah

PG

23, 24

No.

Standar Kompetensi

( SK )

Kompetensi Dasar

( KD )

Indikator

Indikator Soal

Bentuk

Soal

Nomor

Soal

1

2

3

4

5

6

7

   

· Peserta didik dapat memilih masjid yang yang pertama kali dibangun oelh Rasulullah SAW

PG

25

 

· Menunjukkan keteladanan yang dapat diambil dari cara dakwah Rasulullah Saw dalam membina umat.

· Peserta didik dapat menuliskan sikap dan perilaku yang mencerminkan dakwah di Madinah

ESSAY

4

Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasulullah Saw periode Madinah

· Menjelaskan strategi dakwah Rasulullah Saw periode Madinah

· Peserta didik dapat menyebutkan isi perjanjian Madinah

ESSAY

5

Posted by: syaunarahman | May 10, 2011

CABANG-CABANG IMAN

CABANG-CABANG IMAN

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda,

"Iman itu lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan, ‘Laa ilaaha illallah’ dan cabang yang paling rendah yaitu menyingkirkan kotoran dari jalan". (HR. Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar telah meringkas hal tersebut dalam kitab-nya Fathul Baari, sesuai keterangan Ibnu Hibban, beliau berkata, "Cabang-cabang ini terbagi dalam amalan hati, lisan dan badan".

  1. Amalan Hati:
    Adapun amalan hati adalah berupa i’tikad dan niat. Dan ia terdiri dari dua puluh empat sifat (cabang); iman kepada Allah, termasuk di dalamnya iman kepada Dzat dan Sifat-sifatNya serta pengesaan bahwasanya Allah adalah:
    "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat". (As-Syuraa: 11)
    Serta ber’itikad bahwa selainNya adalah baru, makluk. Beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat-malaikat, kitab-kitab dan para rasulNya. Beriman kepada qadar (ketentuan) Allah, yang baik maupun yang buruk.
    Beriman kepada hari Akhirat: Termasuk di dalamnya pertanyaan di dalam kubur, kenikmatan dan adzabNya, kebangkitan dan pengumpulan di Padang Mahsyar, hisab (perhitungan amal), mizan (timbangan amal), shirath (titian di atas Neraka), Surga dan Neraka.
    Kecintaan kepada Allah, cinta dan marah karena Allah. Kecintaan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam dan yakin atas keagungan beliau, termasuk di dalamnya bershalawat atas Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam dan mengikuti sunnahnya.
    Ikhlas, termasuk di dalamnya meninggalkan riya dan nifaq. Taubat dan takut, berharap, syukur dan menepati janji, sabar, ridha dengan qadha dan qadhar, tawakkal, kasih sayang dan tawadhu (rendah hati), termasuk di dalamnya menghormati yang tua, mengasihi yang kecil, meninggalkan sifat sombong dan bangga diri, meninggalkan dengki, iri hati dan emosi.
  2. Perbuatan Lisan:
    Ia terdiri dari tujuh cabang: Mengucapkan kalimat tauhid, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah, membaca Al-Qur’an, belajar ilmu dan mengajarkannya, berdo’a, dzikir, termasuk di dalamnya istighfar (memohon ampun kepada Allah), bertasbih (mengucapkan, "Subhanallah", dan menjauhi perkataan yang sia-sia.
  3. Amalan Badan:
    Ia terdiri dari tiga puluh delapan cabang:
    1. Yang berkaitan dengan materi.
      Bersuci baik secara lahiriyah maupun hukumiah: termasuk di dalamnya menjauhi barang-barang najis, menutup aurat, shalat fardhu dan sunnat, zakat, memerdekakan budak.
      Dermawan: termasuk di dalamnya memberikan makan orang lain, memuliakan tamu. Puasa baik fardhu maupun sunnat, i’tikaf, mencari lailatul qadar, haji, umrah dan thawaf.
      Lari dari musuh untuk mempertahankan agama: termasuk di dalamnya hijrah dari negeri musyrik ke negeri iman. Memenuhi nadzar, berhati-hati dalam soal sumpah (yakni bersumpah dengan nama Allah secara jujur, hanya ketika sangat membutuhkan hal itu), memenuhi kaffarat (denda), misalnya kaffarat sumpah, kaffarat hubungan suami-istri di bulan Ramadhan.
    2. Yang berkaitan dengan nafsu.
      Ia terdiri dari enam cabang: menjaga diri dari perbuatan maksiat (zina) dengan menikah, memenuhi hak-hak keluarga, berbakti kepada kedua orang tua: termasuk di dalamnya tidak mendurhakainya, mendidik anak.
      Silaturahim, taat kepada penguasa (dalam hal-hal yang tidak merupakan maksiat kepada Allah), dan kasih sayang kepada hamba sahaya.
    3. Yang berkaitan dengan hal-hal umum:
      Ia terdiri dari tujuh belas cabang: menegakkan kepemimpinan secara adil, mengikuti jama’ah, taat kepada ulil amri, melakukan ishlah (perbaikan dan perdamaian) di antara manusia termasuk di dalamnya memerangi orang-orang Khawarij dan para pemberontak. Tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, termasuk di dalamnya amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan melarang dari kemungkaran), melaksanakan hudud (hukuman-hukuman yang telah ditetapkan Allah).
      Jihad, termasuk di dalamnya menjaga wilayah Islam dari serangan musuh, melaksanakan amanat, di antaranya merealisasikan pembagian seperlima dari rampasan perang: Utang dan pembayaran, memuliakan tetangga, bergaul secara baik, termasuk di dalamnya mencari harta secara halal. Menginfakkan harta pada yang berhak, termasuk di dalamnya meninggalkan sikap boros dan foya-foya. Menjawab salam, mendo’akan orang bersin yang mengucapkan alham-dulillah, mencegah diri dari menimpakan bahaya kepada manusia, menjauhi perkara yang tidak bermanfaat serta menyingkirkan kotoran yang mengganggu manusia dari jalan.
      Hadits di muka menunjukkan, bahwa tauhid (kalimat laa ilaaha illallah) adalah cabang iman yang paling tinggi dan paling utama.
      Oleh karena itu, para da’i hendaknya memulai dakwahnya dari cabang iman yang paling utama, kemudian baru cabang-cabang lain yang ada di bawahnya. Dengan kata lain, membangun fondasi terlebih dahulu (tauhid), sebelum mendirikan bangunan (cabang-cabang iman yang lain). Mendahulukan hal yang terpenting, kemudian disusul hal-hal yang penting
Posted by: syaunarahman | April 3, 2011

TAKABBUR, Merupakan Akhlak Tercela yang Harus Diajuahi

Ta’rif Akhlak

Akhlak adalah situasi hati yang mantap, yang muncul ke permukaan dari individu muslim dengan reflek tanpa dipertimbangkan. Apabila situasi hati itu menimbulkan amal perbuatan yang baik dan terpuji menurut akal dan agama, ia disebut akhlak yang baik. Dan jika yang timbul darinya adalah amal perbuatan yang buruk, berarti situasi yang menjadi sumbernya adalah situasi hati atau akhlak yang buruk.

Di antara akhlak yang buruk tersebut adalah kesombongan (al-kibr).

Apakah kibr itu? Ia adalah perasaan yang cenderung memandang diri lebih dari orang lain dan meremehkannya. Kesombongan memerlukan adanya orang yang disombongi dan hal-hal yang dipergunakan untuk menyombongkan diri.

Meskipun demikian, seseorang yang menganggap dirinya besar tidak serta merta disebut sombong. Sebab ada kalanya seseorang meganggap dirinya besar akan tetapi ia memandang orang lain sejajar dengannya, atau bahkan lebih besar daripada dirinya. Demikian juga, seseorang yang menganggap orang lain rendah tidak serta merta pasti orang sombong, sebab bisa jadi ia memandang dirinya sejajar dengannya atau bahkan lebih rendah.

Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang mencela sikap sombong

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

* Kemudian Kami katakan kepada malaikat,”Bersujudlah kalian kepada Adam.” Mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk yang bersujud, Allah berfirman,”Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam ketika Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.” Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.” Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (Al-A’raf/7: 11-13)

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

* Aku akan memalingkan orang-orang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku, tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, maka tidak mau menempuhnya. Tetapi jika mereka melihat jalan keksesatan, mereka terus menempuhnya.Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka selalu melalaikannya. (Al-A’raf/7: 146)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

* Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al-Mukmin/40: 60)

Rasulullah saw. bersabda,

لاَ يَدْخًلً اْلجَنَّةَ مَنْ كَانَ ِفيْ قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ . رواه مسلم

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi kesombongan. (HR. Muslim)

Dari Abu Hurarirah ra., dari Nabi saw., Allah swt. berfirman, Kesombongan adalah kain selendang-Ku, kebesaran-Ku. Pada salah satu dari keduanya niscaya Aku akan menyiksamu di dalam neraka jahanam, dan Aku tidak mempedulikannya. (HR Muslim).

Nabi saw. bersabda, Orang-orang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam bentuk semut yang diinjak-injak ummat manusia karena penghinaan mereka kepada Allah. (HR. Al-Bazzar).

Bahaya Takabbur

Dari ayat-ayat dan Hadits di atas dapatlah diketahui bahwa akibat dan bahaya takabbur banyak sekali. Betapa tidak, sedangkan Nabi saw telah menjelaskan bahwa orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun kecil, tidak akan masuk surga. Hal ini karena sikap sombong menjadi tabir antara seorang hamba dengan akhlak orang yang beriman seluruhnya. Sedangkan akhlak tersebut merupakan pintu-pintu masuk surga. Dan kesombongan telah menutup pinut-pintu itu seluruhnya. Sebab oirang yang sombong tidak dapat mencintai orang beriman yang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri, tidak dapat berlaku tawadhu’, padahal tawadhu’ merupakan pangkal akhlak orang beriman yang bertakwa. Ia tidak dapat terus-menerus menjaga kejujuran, tidak dapat meninggalkan rasa dendam, marah, dan dengki; tidak dapat memberi nasehat orang lain; selalu menghina orang dan menggunjingnya.

Sikap sombong inilah yang merupakan dosa pertama iblis yang dipergunakan untuk durhaka kepada Allah. Akibatnya ia diusir dari jannah, kemudian timbul dendam kepada Adam a.s.

Seburuk-buruk kesombongan adalah kesombongan yang dapat menghalangi pelakunya untuk mendapatkan manfaat ilmu dan mengahalangi pelakunya untuk menerima kebenaran dari orang lain dan tunduk kepada kebenaran Oleh karena itu Rasulullah saw menjelaskan kesombongan dengan dua macam bahaya ini ketika beliau ditanya oleh Tsabit bin Qais. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah orang yang suka keindahansebagaimana Engkau lihat. Apakah itu trmasuk sombong?” Nabi amenjawab, “Tidak. Akan tetapi kesombongsan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR Muslim).

Jadi setiap yang memandang dirinya lebih baik daripada orang lain dan menghinanya serta memandangnya dengan sinis, atau menolak kebenaran padahal ia mengetahuinya, maka ia telah sombong dan merebut hak-hak Allah.

Faktor-Faktor Penyebab Kesombongan

Ada beberapa sebab yang dapat menimbulkan kesombongan, Ada yang bersifat keagamaan seperti ilmu dan amal, dan ada yang bersifat keduniaan seperti nasab, ketampanan, kekayaan, dan banyaknya pendukung.

1. Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan dapat dengan cepat menjangkiti orang menjadi sombong. Seseorang merasa dalam dirinya terdapat kesempurnaan ilmu, lalu merasa dirinya hebat, menganggap orang lain bodoh. Kesombongan karena ilmu disebabkan dua hal: pertama, karena menekuni sesuatu yang disebut ilmu, padahal sebenarnya bukan. Sebab ilmu yang hakiki dapat untuk mengenal Tuhannya, dan dapat mengenalkan berbagai hal ketika berurusan dengan Allah. Ilmu yang benar dapat menimbulkan rasa takut dan tawadhu’, bukan sebaliknya. Seperti dalam firman Allah,“Sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama’” (QS Fathir/35: 28)

Kedua, menggeluti ilmu dengan batin yang kotor, jiwa yang rendah dan akhlak yang buruk. Seseorang tidak lebih dahulu melakukan tazkiatun nafs, menekuni pensucian jiwa dan pembersihan hatinya dengan berbagai macam mujahadah, dan tidak menempa jiwanya dengan ibadah. Akibatnya, ilmu yang ditekuninya tidak membawa bekas kebaikan.

Cara mengatasinya. Kesombongan karena ilmu dapat diilaj dengan mengetahui bahwa keutamaan ilmu itu hanyalah dengan disertai niat yang baik dan mengamalkannya serta menyebarluaskannya karena Allah tanpa menmgharapkan manfaat dari manusia. Jika tidak demikian akan menyebabkan seorang yang berilmu lebih rendah martabatnya daripada orang yang bodoh.

Dari Usamah bin Zaid r.a., ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada orang yang dibawa pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka sehingga isi perutnya keluar, lalu ia berputar-putar seperti keledai berputar-putar dalam penggilingan. Kemudia para ahli neraka mengelilinginya dan berkata, ‘Hai Fulan, mengapa kamu (demikian), bukankah kamu (dahulu) memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar?’ Ia menjawab, ‘Ya, saya dahulu saya memerintahkan yang ma’ruf, namun saya tidak mengerjakannya, dan saya mencegah yang mungkar, namun saya mengerjakannya’” (HR Muslim).

2. Amal dan Ibadah

Ahli ibadah kadang-kadang menyombongkan diri atas orang-orang lain, terhadap orang yang tidak melakukan amal ibadah seperti yang dilakukannya. Sikap seperti ini adalah sebuah kebodohan.

Cara mengatasinya adalah dengan memahami bahwa keutamaan ibadah itu jika diterima oleh Allah. Dan diterimanya ibadah itu jika telah memenuhi syarat-syarat dan rukunnya, serta menjauhi apa saja yang dapat merusaknya.Tentunya juga tetap disertai dengan niat ikhlas, taqwa dan terjaga dari hal-hal yang dapat merusakkannya. Allah berfirman, “Maka janganlah kamu menganggap suci dirimu sendiri. Dia lebih mengetahui orang yang bertaqwa” (QSAn-Najm/ : 32). Ayat ini mengisyaratkan bahwa pensucian jiwa itu hanya dengan taqwa. “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal ibadah) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS Al-Maidah/5:27).

Ketiga, Keturunan dan Nasab. Tidak sedikit kasus orang-orang yang membanggakan diri hanya karena keturuna atau nasab. Ungkapan mereka “siapa kamu” atau “siapa orang tuamu”, “aku keturunan si anu” dan “lancang sekali kamu berani bicara denganku” adalah contohnya.

Untuk mengatasi sikap demikian dapat memperhatikan wasiat Rasulullah sebagai berikut:

Telah diriwayatkan Abu Dzar r.a..Ia berkata, “Saya pernah mengejek seseorang di sisi Nabi saw. Saya berkata kepadanya, ‘Hai, anak si wanita hitam!’ Kemudian Nabi saw. marah dan bersabda, ‘Hai, Abu Dzar! Tidak ada kelebihan bagi anak perempuan berkulit putih atas anak perempuan berkulit hitam’. ‘Lalu saya berbaring dan berkata kepada orang tersebut, ‘Berdirilah dan injaklah pipiku!’” (HR Ibnul Mubarak).

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Abu Dzar menyadari kekeliruannya, yakni sombong, dan kesiapan menerima balasan (hukuman) langung dari orang yang bersangkutan. Ia mengetahui bahwa kesombongan akan membawa kehinaan.

Nabi saw. bersabda, “Jika hari kiamat trelah tiba, Allah menyuruh seseorang untuk berseru, ‘Ketahuilah bahwa Aku (Allah) telah menjadikan nasab (yang mulia) dan kamu menjadikan nasab yang lain. Aku telah menjadikan yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa. Lalu kamu enggan (menerimanya), bahkan mengatakan, ‘Si Fulan anak si Fulan lebih baik daripada si Fulan anak si Fulan’. Maka Saya mengangkat nasab (ketetapan)-Ku dan Aku merendahkan nasab (ketetapanmu)’” (HR Baihaqi dan Thabrani).

Keempat, Kecantikan atau Ketampanan.

Ini banyak terjadi pada kaum wanita. Karena kecantikannya menadi sombong dan mencela orang lain, dan menyebut-nyebut cacat (kekurangannya).

Untuk mengatasi hal ini dengan memperhatikan aspek batin dan jangan memandang lahiriahnya. Sebab secara lahiriah, manusia pada umumnya sama saja. Misalnya perut ada tahinya, hidung dan telinga ada kotorannya, keringatnya berbau, dll. Dengan cara demikian ini, kita dapat mengetahui berbagai keburukan manusia yang diciptakan dari sesuatu yang menjijikkan, kemudian mati dan menjadi bangkai. Kecantikan dan ketampanan tidaklah kekal. Ia dapat rusak dan hilang setiap saat karena sakit atau sebab lainnya.

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk (lahiriah)-mu, tetapi melihat hatimu” (HR )

Kelima, Harta Kekayaan.

Ini biasanya mengenai orang-orang yang kaya (aghniya’). Kelebihan dalam kekayaan atau materi, seperti rumah, kendaraan, pakaian, dan harta benda yang lain menyebabkan 0rang kaya menghina yang miskin.

Cara mengatasi hal ini dengan merenungkan hakikat kekayaan. Nabi bersabda, “Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya jiwa” (HR ).

Keenam, Banyaknya Pengikut dan Kekuasaan.

Ini biasanya mengenai para pemimpin dan para tokoh. Kedudukan (kekuasaan) berkait erat dengan banyak pengikut atau pendukung. Keduanya sering menjadikan seseorang trjatuh dalam kesombongan.

Untuk mengatasi kedua sebab kesombongan itu adalah dengan memahami keberadaannya. Takabbur karena dua hal tersebut merupakan kesombongan yang paling buruk, karena sombong dengan sesuatu yang di luar dzat manusia. Seseorang memilikinya hanya sebagai pinjaman yang dapat diambil kembali oleh pemiliknya dengan cepat. Andaikata keduanya telah dicabut, maka bisa jadi orang trsebut akan menjadi yang paling rendah dan hina.

Layak kiranya bagi orang yang budiman untuk menghadap Yang Kekal, yang tidak akan hilang, dan memikirkan firman Allah berikut.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (QS Al-Kahfi/18:46).

“Katakanlah, “Ya, Allah Penguasa segala penguasa, Engkau brikan kekuasaan kepada yang Kau kehendaki, dan Engkau cabut dari siapa yang Kau kehendaki; Engkau muliakan siapa yang Kau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Kau kehendaki dengan kaikan kekuasaan-Mu. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu’” (QS Ali Imran/3:26)

Ketujuh, Kekuatan Fisik dan Keperkasaan.

Orang-orang yang badannya besar, kekar dan perkasa sering terlalu membanggakannya sehinga terperosok pada kesombongan. Mereka merasa kuat dan tak terkalahkan.

Untuk menghilangkan (mengilaj) kesombongan ini dengan mengetahui dan menyadari bahwa kekuatan fisik bukanlah hakikan kemuliaan yang sesungguhnya; ia tidak kekal dan dapat hilang dengan mudahnya. Misalnya orang yang sangat kuat dan perkasa bisa menjadi lumpuh karena struk. Atau akan menjadi lemah setelah terkena irus HIV. Jadi tidaklah layak menyombongkan diri hanya karena kelebihan fisik dan keperkasaan.

Kesimpulan

1. Takabbur adalah rasa senang dan cenderung memandang dirinya melebihi orang lain dan meremehkannya.

2. Hal-hal yang menyebabkan kesombongan adalah: ilmu, amal, ketmpanan/kecantikan, keturuna dan nasab, harta kekayaan, kekuatan fisik dan keperkasaan, kekuasaan dan banyaknya pengikut/pendukung.

3. Akibat kesombongan adalah timbulnya perilaku tercela. Misalnya tidak dpat mencintai saudara seiman sebagaimana mencintai dirinya sendiri, tidak dapat berlaku tawadhu’, tidak dapat menjaga kejujuran, tidak dapat menjahui rasa dendam, marah dan dengki, tidak dpat bersikap lemah lembut, tidak mau menerima nasihat orang lain, suka menghina orang lain, dan sebaginya.

4. Bahaya kesombongan yang paling buruk adalah menghalangi pelakunya dari mengambil manfaat ilmu, dan menolak kebenaran yang disampaikan orang lain. Dan akhirnya dapat menghalangi pelakunya masuk surga.

Maraji’

1. An-Nawawy, Riyadhus-Shalihin.

2. Said Hawa. 1999. Mensucikan Jiwa. Jakarta: Robbani Press.

3. Qoyyim, Al-Jauziyah. 1998. Pendakian Menuju Allah SWT. Jakarta; Al-Kautsar.

STANDAR KOMPETENSI 9

MENGHINDARI PERILAKU TERCELA

(AL AKHLAQUL MADZMUMAH)

Oleh : Drs. Abd. Rohman

TENTANG PERBUATAN DOSA BESAR

clip_image002

Dalam bab ini akan dijelaskan tentang pengertian dosa. Dalil Naqli berkenaan tentang perbuatan dosa besar, contoh perbuatan dosa dosar dan yang berhubungan dengan kerugian dosa besar, menghindari perbuatan dosa besar, serta penerapan sikap perilaku untuk menghindarinya dalam kehidupan sehari-hari.

TUJUAN MODUL :

Siswa dapat :

1. Menjelaskan pengertian pengertian dosa.

2. Menjelaskan dalil naqli berkenaan perbuatan dosa besar

3. Menjelaskan contoh perbuatan dosa dosar dan yang berhubungan dengan kerugian dosa besar

4. Menjelaskan menghindari perbuatan dosa besar

5. Menerapkan sikap dan perilaku yang mencerminkan untuk menghindari perbuatan dosa besar dalam kehidupan sehari-hari

Segala yang ada dalam modul ini dikerjakan secara mandiri dengan bantuan guru baik individu maupun kelompok.

Bagaimana cara mempelajari modul ini ?

Untuk mudahnya kita ikuti petunjuk belajar berikut ini :

1. Baca uraian materi pada tiap-tiap kegiatan dengan baik.

2. Kerjakan semua latihan dan tugas-tugas yang terdapat dalam modul

3. Setelah mengerjakan secara tuntas tanyakan kunci jawaban kepada guru

4. Catatlah bagian-bagian yang belum anda pahami kemudian diskusikan dengan teman anda atau tanyakan kepada guru atau oang yang dianggap mampu

5. Bila anda belum menguasai 75% dari kegiatan maka ulangi kembali langkah-langkah dengan seksama.

Tadarus

clip_image001 Q.S. Al ‘Imraan : 135

clip_image004Artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Q.S. An Nisa {3} : 135)

[229]. Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

clip_image001[1] Q.S. An Nisa : 31

clip_image006

Artinya : “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. (Q.S. An Nisa {4} : 31)

clip_image001[2] Q.S. An Nisa : 48

clip_image008

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (Q.S. An Nisa {4} : 48)

clip_image001[3] Q.S. An Nisa : 2

clip_image010

Artinya : “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”. (Q.S. An Nisa {4} : 2)

clip_image001[4] Q.S. Al Israa : 31

clip_image012

Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Q.S. An Nisa {17} : 31)

[

A. DESKRIPSI

Akhlak tercela semua perbuatan atau akhlak yang sangat tidak disukai. Allah mencela dan tidak menyukainya, orang lain juga tidak menyukainya, sebab perbuatan itu adalah termasuk perbuatan buruk. Orang beriman akan senantiasa selalu menghindarinya dan tidak akan melakukannya. Perilaku tercela yang akan kita pelajari yaitu tentang dosa besar. Dosa-dosa besar itu banyak sekali, ada yang menyebut 70 sampai dengan 90-an. Adapun contoh-contoh dosa-dosa besar, antara lain, syirik atau menyekutukan Allah, durhaka terhadap kedua orang tua, menjadi saksi palsu, membunuh, berzina, dan sebagainya.

B. Perbuatan Dosa

v Pengertian berbuat dosa

Sebelum menguraikan dosa besar, terlebih dahulu dijelaskan pengertian dosa. Perbuatan dosa adalah perbuatan melanggar hukum agama (Islam) yang tercantum di dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Sedangkan yang dimaksud dengan berbuat dosa adalah meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, yang dimaksud dengan dosa besar adalah dosa yang dilakukan dengan sengaja dan berulang-ulang, di samping itu memang ada dosa yang sudah termasuk katagori dosa besar. Adapun tanda-tanda seseorang telah berbuat dosa adalah apabila perbuatan yang telah ia lakukan, terasa salah dalam hati, dan merasa tidak senang atau malu bila orang lain mengetahuinya. Seorang sahabat Nabi s.a.w. yang bernama Wabishah bin Ma’bad berkunjung ke kediaman Rasulullah s.a.w., lalu ia bertanya tentang kebaikan, maka Rasulullah s.a.w. balik bertanya :

ﺟِﺌْﺖَﺗَﺴْﺄَﻝُﻋَﻦِﭐﻟْﺒِﺮﱢﹴ؟ﻗُﻠْﺖُ؛ﻧَﻌَﻢْ٬ﻗَﺎﻝَ؛ﺍِﺳْﺘَﻔْﺖِﻗَﻠْﺒَﻚَ٬ﺍَﻟْﺒِﺮﱡﻣَﺎﭐﻃْﻤَﺄَﻧﱠﺖْﺇِﻟَﻴْﻪِﭐﻟﻨﱠﻔﹿﺲُﻭَﭐﻃْﻤَﺄَﻥﱠﺇِﻟﹷﻴْﻪِﭐﻟْﻘَﻠْﺐُ٬ﻭَﭐﻹِﺛْﻢُﻣﹷﺎﺣَﺎﻙَﻓِﻰﭐﻟﻨﱠﻔْﺲِﻭَﺗَﺮَﺩﱠﺩَﻓِﻰﭐﻟﺼﱠﺪْﺭِﻭَﺇِﻥِﭐﻓْﺘﹷﺎﻙَﭐﻟﻨﱠﺎﺱُﻭَﭐﻓْﺘُﻮْﻙَ

( ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺣْﻤﹷﺪُﻭَﭐﻟﺘُﱡﺮْﻣُﺬِﻱﱡٌِ )

“Engkau datang menanyakan apa itu kebaikan ?” Benar, ya Rasulullah”, Jawab Wabishah, Rasulullah bersabda, “Minta fatwalah kepada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang menyebabkan ketenangan jiwa dan ketentraman hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang lain memberi fatwa kepadamu”. (H.R. Ahmad dan Turmudzi)

Dalam riwayat hadits lainnya disebutkan :

عَنْ اَلنَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ اَلْبِرِّ وَالْإِثْمِ? فَقَالَ: ( اَلْبِرُّ حُسْنُ اَلْخُلُقِ, وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ اَلنَّاسُ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Nawas Ibnu Sam’an Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau bersabda: "Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya." Riwayat Muslim.

Ada beberapa istilah kata yang digunakan dalam Al Qur’an yang mengandung makna dosa, yaitu :

1. Al Itsmu ( ﭐْْﻹِﺛْﻢُ ) sejumlah 44 x, di antaranya dalam Q.S. {2} : 219

2. Adz Dzanbu ( ﭐﻟﺬﱠﻧْﺐُ ) sejumlah 48 x, di antaranya dalam Q.S. {3} : 135

3. Al Khith’u ( ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُ ) sejumlah 22 x, di antaranya dalam Q.S. {17} : 31

4. As Sayyiat ( ﭐﻟﺴﱠﻴﱢﺌَﺔُ ) sejumlah 176 x, di antaranya dalam Q.S. {20} : 22

5. Al Huub ( ﭐﻟﺤُﻮْﺏُ ) sejumlah 1 x, yang terdapat dalam Q.S. {4} : 2

Dari istilah kata tersebut bila diambil pengertian sebagai berikut :

· Al Itsmu ( ﭐْْﻹِﺛْﻢُﻫُﻮَﻋَﻤِﻞَﻣَﺎﻻَﻳَﺤِﻞﱡ ) artinya “mengerjakan sesuatu yang tidak halal bagi agama”, maksudnya tindakan yang menghambat terwujudnya kebaikan (pahala), karena membahayakan jasmani, jiwa, akal, harta benda (materi). Firman Allah Q.S. Al Baqarah : 219 ;

clip_image014

Artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”. (Q.S. Al Baqarah {2} : 219)

· Adz Dzanbu (ﭐﻟﺬﱠﻧْﺐُﻫُﻮَﺗَﺒِﻌَﻪُﻓَﻠَﻢْﻳُﻔَﺮﱢﻕْﺇِﺳْﺮَﻩُ) artinya “menyertai dan tidak dapat berpisah”. Mengacu pada perbuatan dosa yang paling jelek, dosa kepada Allah s.w.t. dan manusia. Firman Allah Q.S. Ali ‘Imran : 135 ;

clip_image016

Artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Q.S. Al ‘Imrän {3} : 135)

[229]. Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

· Al Khith’u (ﻫُﻮَﻣَﺎﻟَﻢْﻳُﺘَﻌَﻤﱠﺪْﻣِﻦَﭐﻟْﻔِﻌْﻞ ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُ ) maksudnya “melenceng dari yang sebenarnya”. a. Niat mengerjakan yang salah, kemudian benar-benar dikerjakan kesalahan seperti ini dinamakan al khit’ut taam ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُﭐﻟﺘﳲﺎﻡُ (betul-betul salah). b. Niat mengerjakan sesuatu yang boleh dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya, dengan kata lain, benar niatnya, tetapi tindakan salah. c. Niat mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi yang dilakukan sebaliknya, yaitu perbuatan yang boleh dilakukan. Yanh disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Dari sekian banyak ayat Al Qur’an yang mengandung kata ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُ dapat dipahami bahwa kata ini digunakan untuk menyebut dosa yang bervariasi, misalnya ; dosa kepada Allah, dan dosa kepada sesama manusia. Contoh ungkapan kata ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُ dalam ayat al Qur’an :

clip_image018

Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. (Q.S. Al Isrā {17} : 31)

· As Saŷiah – ﭐﻟﺴُﻮْﺀُﹴﻫُﻮَﻛُﻞﱡﻣَﺎﻳَﻌُﻢﱡﭐْﻹِﻧْﺴَﺎﻥَﻣِﻦَﭐْﻷُﻣُﻮْﺭِﭐﻟﺪﱡﻧْﻴَﻮِﻳﱠﺔِﻭَﭐْﻷُﺧْﺮَﻭِﻳﱠﺔِ / ﭐﻟﺴﱠﻴﱢﺌَﺔُ )

( ﻭَﻣِﻦَﺍْﻷَﺣْﻮَﺍﻝِﭐﻟﻨﱠﻔْﺴﹻﻴﱠﺔِﻭَﭐﻟﺒَﺪَﻧِﻴﳲﺔِﻭﭐﻟْﺨَﺎﺭِﺟَﺔِﻣِﻦْﻓَﻮَﺍﺕِﻣَﺎﻝٍﻭَﺟَﺎﻩٍﻭَﻓَﻘْﺪِﺣَﻤِﻴْﻢٍ

Artinya : “ segala sesuatu yang dapat menyusahkan manusia, baik masalah keakhiratan, atau baik masalah keduniaan maupun masalah keahiratan, atau baik masalah yang terkait dengan kejiwaan atau jasmani, yang diakibatkan oleh hilangnya harta benda, kedudukan dan meninggalnya orang-orang yang disayangi”. Termasuk yang terkandung dari pengertian sü’ atau as saŷiah antara lain perbuatan :

– Perzinaan (Q.S. An Nisa {4} : 22)

– Menjadikan syetan sebagai teman (Q.S. An Nisa {4} : 38)

– Mengubur hidup-hidup anak perempuan seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyyah (Q.S. An Nisa {4} : 58 – 59)

– Dosa kecil (Q.S. An Nisa {4} : 31)

Salah satu ayat yang menjelaskan seperti yang tersebut pada Q.S. An Nisa {4} : 79 adalah ;

clip_image020

Artinya : “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (Q.S. An Nisa {4} : 79)

· Al Huub ( ﭐﻟﺤُﻮْﺏُ ) senonim dengan kata ﭐْْﻹِﺛْﻢُ . Firman Allah s.w.t. tentang huub pada Q.S. An Nisa {4} : 2 ;

clip_image021

Artinya : “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.

Apakah yang mendorong seseorang melakukan dosa ? Pada dasarnya seseorang melakukan dosa karena orang tersebut tidak mampu memerangi godaan syetan. Hal ini disebabkan karena imannya yang masih lemah atau belum memiliki keyakinan yang kuat kepada kebenaran agamanya. Dosa ada yang kecil dan ada yang besar. Dosa kecil sering dilakukan manusia tanpa disengaja, tetapi manusia tetap harus berusaha sekuat tenaga untuk menghindarkan diri dari dosa, baik yang besar maupun yang kecil. Cara menghapus dosa kecil yang diperbuat manusia, ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w., antara lain.

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ رواه مسلم.

Artinya : “Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat jum’at lainnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan.” (HR. Muslim).

Adapun perbuatan yang termasuk dosa besar dan dapat merusak iman seseorang dijelaskan sabda Rasulullah s.a.w., sebagai berikut :

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., bersabda: "Jauhilah tujuh macam hal yang merusakkan." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah.apakah tujuh macam hal itu?" Beliau s.a.w bersabda:
"Yaitu menyekutukan sesuatu dengan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, melainkan dengan hak – yakni berdasarkan kebenaran menurut syariat Agama Islam – makan harta riba, makan harta anak yatim, mundur pada hari berkecamuknya peperangan serta mendakwa kaum wanita yang muhshan – pernah bersuami-lagi mu’min dan pula lalai -dengan dakwaan melakukan zina. (Muttafaq ‘alaih)

v Bahaya perbuatan dosa

a) Dapat merusak iman dan Islam seseorang

b) Menyebabkan seseorang sulit menerima nasihat agama

c) Menyebabkan seseorang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu

d) Menyebabkan seseorang tidak memperoleh ketenangan dalam hidup

e) Menyebabkan seseorang memperoleh siksa kelak pada hari qiamat

v Ciri perbuatan dosa besar

a) Mendapat sanksi berupa azab dari Allah SWT

b) Mendapat sanksi berupa laknat dari Allah SWT

c) Dapat menghapus iman

d) Larangannya berulang kali

e) Penyebab merajalelanya kemungkaran

f) Pelakunya mendapat hukuman di dunia sesuai kapasitas dosa yang dilakukannya

g) Ditandai ungkapan “kemaksiyatan dapat merusak kebaikan”

h) Ditandai dengan ungkapan “Allah tidak suka melihat pelaku dosa

v Cara menghindari perbuatan dosa

a) Selalu mengingat Allah di mana saja berada

Rasulullah s.a.w. bersabda :

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ "

[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Artinya : Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”.
(HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih)

b) Menyadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, sedangkan hidup yang abadi adalah setelah kita melewati yaumul hisab nanti di kemudian hari

c) Selalu berdzikir kepada Allah SWT

d) Selalu bertaubat dan beristighfar kepada Allah

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ اَلْخَطَّائِينَ اَلتَّوَّابُونَ )  أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ وَسَنَدُهُ قَوِيٌّ

Artinya : “Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat. Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Sanadnya kuat.

e) Bergaul dengan orang-orang yang saleh, karena pergaulan yang tidak islami akan membawa malapetaka bagi diri kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْمُؤْمِنُ مِرْآةُ اَلْمُؤْمِنِ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Artinya : “Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang mukmin." Riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan.

f) Selektif dalam memilih teman

g) Menjauhkan diri dari tempat-tempat yang di dalamnya terdapat maksiat

h) Selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT

i) Meneladani kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang yang saleh.

Mendapat sanksi berupa laknat

Macam-macam Dosa Besar

Dosa besar disebut dengan istilah Al-Kabair. Dosa besar yang paling besar dan tidak akan diampuni oleh Allah swt, yaitu dosa syirik atau menyekutukan Allah, dan dosa besar kedua ialah durhaka kepada kedua orang tua. Adapun perbuatan dosa besar yang dapat merusak iman seseorang dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW sebagai berikut :

ﻋَﻦْﺃَﺑِﻲْﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَﺭﺽ،ﻋَﻦِﭐﻟﻨﱠﺒِﻲﱢﻗَﺎﻝَ؛اِﺟْﺘَﻨِﺒُﻮْﺍﻟﺴﱠﺒْﻊَﭐﻟْﻤُﻮْﺑِﻘَﺎﺕِ٬ﻗَﺎﻟُﻮْﺍﻳَﺎﺭَﺳُﻮْﻝَﭐﷲِ٬ﻭَﻣَﺎﻫُﻦﱠ؟ﻗَﺎﻝَ؛ﭐﻟﺸﱢﺮْﻙُﺑِﺎﷲِ٬ﻭَﭐﻟﺴﱢﺤْﺮُ٬ﻭَﻗَﺘْﻞُﭐﻟﻨﱠﻔْﺲِﭐﻟﱠﺘِﻲْﺣَﺮﱠﻡَﭐﷲُﺇِﻻﱠﺑِﺎﻟْﺤَﻖﱢ٬ﻭَﺃَﻛْﻞُﻣَﺎﻝِﭐﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ٬ﻭَﭐﻟﺘﱠﻮَﻟﱢﻰﻳَﻮْﻡَﭐﻟﺰﱠﺣْﻒِ٬ﻭَﻗَﺬْﻑُﭐﻟْﻤُﺤْﺼَﻨﹷﺎﺕِﭐﻟْﻤﹹﺆْﻣِﻨﹷﺎﺕِﭐﻟْﻐﹷﺎﻓﹻﻼَﺕِ

( ﻣُﺘﱠﻔَﻖٌﻋَﻠَﻴْﻪِ )

Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a.,dari Rasulullah s.a.w. bersabda,”Jauhilah tujuh macam dosa besar yang membinasakan”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketujuh macam dosa itu ?” beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa (manusia) yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari pada saat pertempuran, dan menuduh berbuat zina terhadap wanita-wanita yang selalu menjaga diri dan tidak pernah berpikir (untuk berzina). (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari Thaisalah bin Mayyas, dia berkata, :

كُنْتُ مَعَ النَّجَدَاتِ، فَاَصَبْتُ ذُنُوْبًا لاَ أَرَاهَا اِلاَّ مِنَ الْكَبَائِرِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لاِبْنِ عُمَرَ قَالَ: مَا هِيَ؟ قُلْتُ: كَذَا وَكَذَا؟ قَالَ: لَيْسَتْ هَذِهِ مِنَ الْكَبَائِرِ، هُنَّ تِسْعٌ : اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَقَتْلُ نَسْمَةٍ، وَالْفِرَارُ مِنَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَةِ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ، وَاِلْحَادُ فِي الْمَسْجِدِ، وَالَّذِي يَسْتَسْخِرُ، وَبُكَاءُ الْوَالِدَيْنِ مِنَ الْعُقُوْقِ قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتُفِرَّقُ مِنَ النَّارِ وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: أَىْ وَاللهِ! قَالَ: أَحَىُّ وَالِدُاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِي أُمِّى، قَالَ: فَوَاللهِ! لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ ﺭَﻭَﺍﻩُٱﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡﻓﻲﺍٰﺩﺏٱﻟﻤﻔﺮﺍﺩ

Artinya : "Aku bersama orang-orang keturunan Najdah bin Amir Al Khariji, yang membuat aku banyak melakukan dosa-dosa besar. Kemudian aku melaporkannya kepada Ibnu Umar, seraya bertanya, "Apa dosa-dosa itu?" Aku menjawab, "Ini dan itu." Ibnu Umar berkata, "Itu tidak termasuk dosa-dosa besar. Dosa-dosa besar itu, ada sembilan, yaitu menyekutukan Allah, membunuh orang, lari dari peperangan, menuduh zina kepada wanita mukmin, memakan harta riba, mengambil harta anak yatim, melenceng di masjid, orang yang suka menghina (mengejek), dan (menyebabkan) orang tua menangis karena durhaka (kepada keduanya)." Ibnu Umar berkata, kepadaku, "Apakah engkau takut dari neraka dan ingin masuk surga?" Saya berkata, "Apa benar, demi Allah?," Ibnu Umar berkata, "Apakah orang tuamu masih hidup?" Saya menjawab, "Ibu saya masih hidup." Ibnu Umar berkata, "Demi Allah! sekiranya engkau berbicara lemah lembut kepadanya dan memberi makan kepadanya, maka niscaya engkau benar-benar akan masuk surga selama dosa-dosa besar itu dijauhi." (H.R. Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad, Shahih, dalam kitab Ash-Shahihah (2898). 7/9.)

1. Syirik

Syirik artinya menyekutukan Allah swt. Syirik adalah dosa besar dan tak diampuni oleh Allah swt. Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’ ayat 116

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

) النساء : ۱۱٦ (

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu). Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehdaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh ia telah tersesat jauhnya sekali. (Q.S. An Nisa {4} : 116)

Dalam kitab Al Bayan yang ditulis oleh Prof. Dr. Hasbi Ash Shiddiqiy, ia menguraikan macam syirik, yaitu sebagai berikut :

a. Syirik Istiqlal, pengakuan pada adanya dua tuhan yang masing-masing berdiri sendiri.

b. Syirik Tad’id, yaitu bahwa tuhan itu terdiri dari beberapa tuhan (polytheisme).

c. Syirik Taqrib, yaitu menyembah kepada selain Allah dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah.

d. Syirik Taqlid, yaitu menyembah kepada selain Allah karena bertaqlid atau mengikuti apa yang telah diperbuat oleh nenek moyangnya.

e. Syirik Sebab, yaitu menyandarkan sesuatu yang telah terjadi kepada selain Allah.

f. Syirik Garad, yaitu mengerjakan ibadah dan amal saleh bukan karena Allah, tetapi karena maksud keduniaan (ria dan sum’ah). Perbuatan ria dan sum’ah termasuk syirik kecil, akan tetapi pelakunya tidak dianggap kufur. Adapun pelaku syirik istiqlal, tab’id, taqrib, dan taqlid dapat dianggap kufur.

Akibat buruk atau bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan syirik (sehingga kita harus menjauhinya) antara lain sebagai berikut :

a. Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik, apabila ia tidak bertaubat dengan taubat nasuha.

clip_image023

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar “. (Q.S. An Nisa : 48)

b. Allah mengharamkan masuk surga bagi orang musyrik.

clip_image025

Artinya : “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun “(Q.S. Al Maidah : 72)

c. Pelecehan martabat manusia, manusia diberi amanah oleh Allah untuk menjadi khalifah di bumi (memimpin seluruh makhluk). Seseorang yang musyrik berarti menyembah kepada yang dipimpinnya. Ini berarti menurunkan martabatnya sebagai manusia selaku khalifah Allah.

d. Orang yang musyrik akan rusak akhlaknya, sehingga tingkah lakunya dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, seperti : rakus, keji, kejam, dengki, penakut, dan berani membuat syari’at sendiri.

e. Orang musyrik adalah najis sehingga haram masuk masjidil haram. (lih. Q.S. At Taubah : 28)

f. Berbuat kezaliman terbesar.

clip_image027

Artinya : “ …sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar “

g. Menyebarkan hal-hal yang negatif dalam kehidupan manusia.

2. Durhaka terhadap kedua orang tua

Orang yang paling banyak jasanya dan paling dekat dengan kita adalah kedua orang tua, yaitu : ibu dan bapak. Seorang yang durhaka terhadap kedua orang tua adalah termasuk dosa besar. Perbuatan yang termasuk di dalamnya, antara lain : membentak , menghardik, berkata yang tidak sopan atau berkata yang bersifat meremehkannya, dan menyakiti hati atau persaan orang tua. Agama Islam melarang anak durhaka terhadap Ibu dan Bapaknya. Yang dimaksud durhaka terhadap kedua orang tua yaitu menyakiti baik secara lahiriah maupun batiniah. Dalam Al Qur’an ditegaskan tentang kewajiban berbakti kepada keduanya, jangan sekali-kali menyakitinya;

clip_image029

Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil “ (Q.S. Al Isra : 23-24)

[850]. Mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ اَلْمُغِيرَةِ بْنِ سَعِيدٍ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( إِنَّ اَللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ اَلْأُمَّهَاتِ, وَوَأْدَ اَلْبَنَاتِ, وَمَنْعًا وَهَاتِ, وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ, وَكَثْرَةَ اَلسُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ اَلْمَالِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Artinya: “Dari al-Mughirah Ibnu Syu’bah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menahan dan menuntut; dan Dia tidak suka kalian banyak bicara, banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan harta." Muttafaq Alaihi.

Dosa karena durhaka, bukan saja di akhirat akan diterimakan azab yang berat dan dahsyat, akan tetapi Allah juga akan mempercepat azab di dunia ini.

Nabi Muhammad saw. Bersabda:

Artinya: “Tiap-tiap dosa diturunkan Tuhan (pembalasan menurut kehendak-Nya) kecuali dosa durhaka terhadap ibu bapak. Tuhan mempercepat (pembalasan itu) terhadap orang yang melakukannya di dunia (ini), sebelum yang bersangkutan mati.” (H.R. Hakim)

Anak yang durhaka kepada orang tua akan mendapat murka Allah sebagaimana hadits dari Abdullah bin ‘amr bin ‘ash, dari Rasulullah s.a.w. bersabda :

عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ )  أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Artinya: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua." (H.R. Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim)

Bentuk-bentuk perbuatan durhaka kepada orang tua :

1. Tidak memberikan nafkah kepada orang tua bila mereka membutuhkan.

2. Tidak melayani mereka dan berpaling darinya. Lebih durhaka lagi bila menyuruh orang tua melayani dirinya.

3. Mengumpat kedua orang tuanya di depan orang banyak dan menyebut-nyebut kekurangannya.

4. Mencaci dan melaknat kedua orang tuanya.

5. Menajamkan tatapan mata kepada kedua orang tua ketika marah atau kesal kepada mereka berdua karena suatu hal.

6. Membuat kedua orang tua bersedih dengan melakukan sesuatu hal, meskipun sang anak berhak untuk melakukannya. Tapi ingat, hak kedua orang tua atas diri si anak lebih besar daripada hak si anak.

7. Malu mengakui kedua orang tuanya di hadapan orang banyak karena keadaan kedua orang tuanya yang miskin, berpenampilan kampungan, tidak berilmu, cacat, atau alasan lainnya.

8. Enggan berdiri untuk menghormati orang tua dan mencium tangannya.

9. Duduk mendahului orang tuanya dan berbicara tanpa meminta izin saat memimpin majelis di mana orang tuanya hadir di majelis itu. Ini sikap sombong dan takabur yang membuat orang tua terlecehkan dan marah.

10. Mengatakan “ah” kepada orang tua dan mengeraskan suara di hadapan mereka ketika berselisih.

Dalam kitab “Birrul Walidain” oleh Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, menyebutkan di antara bentuk durhaka (uquq) kepada orang tua ialah :

{1} Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan ataupun hal lainnya yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.

{2} Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.

{3} Membentak atau menghardik orang tua.

{4} Bakhil, tidak mengurusi orang tua bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tua padahal orang tua sangat membutuhkan. Seandai memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.

{5} Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, ‘kolot’ dan lain-lain.

{6} Menyuruh orang tua, misal menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi jika ‘Si Ibu” melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauan sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.

{7} Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.

{8} Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan tega mengusir ibu demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.

{9} Memasukkan kemungkaran kedalam rumah misal alat musik, mengisap rokok, dan lain lain.

{10} Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggal ketika status sosial meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini ialah sikap yg amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

Seorang anak, wajib berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Berbuat baik terhadap kedua orang tua tidak terbatas semasa keduanya masih hidup, akan tetapi sesudah meninggal pun masih diwajibkan untuk berbuat baik terhadap keduanya.

Cara berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal dunia, antara lain:

a. Menyalatkan kedua orang tua ketika meninggal dunia.

b. Mendoakan dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Doa memohon ampunan kepada Allah swt..

clip_image031

Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu dan bapakku dan semua, serta sekalian orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat)”. (Q.S. Ibrähïm {14} : 41)

c. Melaksanakan janji-janji apabila keduanya meninggalkan wasiat.

d. Melanjutkan silaturahmi dengan orang-orang yang biasa dikunjunginya.

e. Menghormati dan memuliakan sahabat serta teman-teman lainnya.

3. Bersaksi Palsu

Pengertian menurut bahasa, kata saksi atau syahadah diambil dari kata musyahadah yang berarti : melihat dengan mata kepala. Pengertian saksi menurut istilah ialah pemberitahuan seseorang tentang apa yang dia ketahui dengan lafal ‘aku menyaksikan’ (asyhadu atau syahidtu).

Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Fiqhus Sunnah” menjelaskan hukum kesaksian adalah fardlu ‘ain bagi orang yang memikulnya bila ia dipanggil untuk itu dan dikhawatirkan kebenaran akan hilang. Akan tetapi, meskipun tidak dipanggil, tetap wajib hukumnya apabila tanpanya dikhawatirkan kebenaran akan hilang. Seseorang yang menyaksikan suatu peristiwa tidak boleh menyembunyikan kesaksiannya atau menjadi saksi palsu, yaitu bersaksi tidak sesuai dengan kejadian perkaranya (tidak sesuai fakta) sebagaimana firman SWT :

( ٢٨٣ : ﭐﻟﺒَﻘَﺮَﺓُ ) clip_image033…..

Artinya : “…dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“.

4. Sihir

Pengertian sihir menurut bahasa adalah mengalihkan. Menurut Ibnu Faris dalam Kitab “Al Misbah Al Munir”, sihir adalah memperlihatkan kebatilan dalam bentuk haq (kebenaran). Dalam al Mu’jam Al Wasith yang ditulis Ibrahim Mustafa disebutkan bahwa sihir adalah sesuatu yang memakai cara lembut dan halus.

Menurut istilah sihir dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Menurut Fakhrudin Ar Razi, sihir menurut istilah syara’ dikhususkan bagi sesuatu yang penyebabnya tidak terlihat atau samar, terbayang dalam wujud yang bukan sebenarnya, dan berlangsung melalui pemutar balikan fakta.

b. Menurut Ibnu Qudamah, sihir adalah bundelan (buhul), mantera-mantera, dan ucapan yang diucapkan atau ditulis mengerjakan sesuatu yang menimbulkan pengaruh pada badan, hati, atau akal orang yang terkena sihir dengan tidak menyentuhnya.

Para Ulama sepakat bahwa perbuatan sihir termasuk dosa besar yang harus dihindari atau dijauhi sebagaimana firman Allah SWT :

( ٤٣ : ﺳَﺒَﺎ ) clip_image035 ….

Artinya : “….Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata “

5. Mencuri dan Merampok

a. Mencuri

Mencuri adalah mengambil harta orang lain dengan jalan sembunyi-sembunyi atau diam-diam. Mencuri merupakan dosa besar dan wajib dihukum, yaitu dengan dipotong tangannya. Apabila seorang yang mencuri untuk pertama kalinya dan telah mencapai nishab kadar dari barang yang dicurinya, maka yang dipotong adalah tangan kanannya dari pergelangan tangan. Bila ia mencuri untuk kedua kalinya, maka yang dipotong adalah kaki kirinya dari ruas tumit. Bila ia mencuri yang ketiga kalinya, maka yang dipotong adalah tangan kirinya. Dan apabila ia mencuri yang keempat kalinya, maka yang dipotong adalah kaki kanannya. Apabila masih tetap mencuri, maka dipenjarakan sampai bertobat. Firman Allah SWT :

(٣٨ : ﭐﻟﻤَﺎﺋِﺪَﺓُ ) clip_image037

Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Syarat pencuri dipotong tangannya adalah sebagai berikut :

1) Pencuri sudah balig, berakal, dan melakukan pencurian itu dengan kehendaknya.

2) Barang yang sudah mencapai nishab (batas minimal ukuran barang yang dicuri) kira-kira seberat 93,6 gram, dan barang itu diambil dari tempat penyimpanannya.

b. Merampok

Perbuatan merampok atau merampas harta orang lain yang kadang diserta kekerasan, ancaman senjata, dan bahkan terjadi pembunuhan merupakan perilaku yang sangat menggelisahkan dan mengerikan, sehingga termasuk perbuatan haram dan merupakan dosa besar. Allah SWT berfirman dalam Q.S. An Nisa {4} : 93 ;

clip_image039

Artinya : “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya “

Oleh karena itu, tepat sekali penegasan Allah SWT yang tersebut dalam Al Qur’an bahwa perampok itu (orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi) dan termasuk kelompok hirabah, yaitu kelompok yang menyatakan perang terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka dianggap perang terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya karena yang mereka lakukan merupakan perbuatan melawan hukum Allah SWT dan mengganggu masyarakat yang dilindungi oleh hukum tersebut. Hal ini tercantum dalam Q.S. Al Maidah {5} : 33 ;

clip_image041

Artinya : “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar“.

[414]. Maksudnya ialah: memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.

Adapun hukuman bagi perampok terdiri dari 4 macam, yakni sebagai berikut :

1) Perampokan dengan membunuh orang yang dirampoknya dan diambil hartanya. Dalam hal ini hukumnya wajib dibunuh, kemudian disalibkan (dijemur).

2) Perampokan dengan membunuh orang yang dirampok, tetapi hartanya tidak diambil. Hukumannya dibunuh tanpa disalib.

3) Hanya mengambil hartanya saja yang sedikitnya satu nisab, sedangkan orangnya tidak dibunuh. Hukumannya dipotong tangan kanannya dan kaki kirinya.

4) Perampokan yang tujuannya hanya menakut-nakuti saja, hukumannya adalah dipenjara, atau hukuman lain berdasarkan pertimbangan hakim yang dapat memberinya pelajaran sehingga ia tidak mengulangi perbuatan itu kembali.

Lepasnya bagi pelaku tindak kejahatan dan perbuatan dosa dinyatakan dalam hadits Nabi SAW :

ﻋَﻦْﺃَﺑِﻲْﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَﺭﺽ،ﻋَﻦِﭐﻟﻨﱠﺒِﻲﱢﻗَﺎﻝَ؛۰۰۰ﻭَﻻَﻳُﺴْﺮِﻕُﺣِﻴْﻦَﻳَﺴْﺮِﻕُﻭَﻫُﻮَﻣُﺆْﻣِﻦٌ۰۰۰

( ﺭَﻭَﺍﻩُﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ )

Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW bersabda; “Tidaklah seorang pencuri ketika mencuri itu beriman.“ (H.R. Bukhari)

Kita wajib menjauhi perilaku mencuri apalagi mengambil dengan cara kekerasan, bahkan haruslah kita membenci perbuatan tercela tersebut. Di antara wujud membenci perbuatan tersebut dapat dilakukan melalui perilaku sebagai berikut :

a. Tidak menyakiti teman, baik secara fisik maupun perasaan, laki-laki maupun perempuan.

b. Tidak mau melakukan pencurian milik orang lain, bahkan kebiasaan menyembunyikan perlengkapan sekolah atau barang-barang teman sekolahnya.

c. Tidak mau menipu atau membohongi kawan, apalagi orang tua atau guru.

d. Tidak membiasakan diri dengan perilaku yang merugikan orang lain.

6. Membunuh

Hak-hak utama yang paling penting bagi setiap manusia yang dijamin oleh Islam adalah hak hidup, selanjutnya hak pemilikan, hak pemeliharaan kehormatan, hak kemerdekaan, hak persamaan, dan hak menuntut ilmu pengetahuan.

Di antara hak yang paling penting ialah hak hidup. Firman Allah SWT :

(٣٣ : ﭐﻹِﺳْﺮَﺍﺀُ ) …..clip_image043

Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar ….”

Dalam Islam, ada pembahasan tentang jinayat. Jinayat adalah perbuatan dosa besar, maksiyat, atau tindak kejahatan. Dalam Fiqih Islam, Jinayat adalah perbuatan yang dilarang syara’, baik mengenai jiwa, harta dan lain-lain. Islam memberikan perhatian terhadap perlindungan jiwa dan Allah mengancam orang yang merampas hal tersebut dengan hukuman yang berat. Allah SWT berfirman tersebut dalam Q.S. An Nisa {4} : 93 ;

clip_image039[1]

Artinya : “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya “

Dalam suatu yang disabdakan Rasulullah SAW, menyebutkan :

Adapun jenis-jenis pembunuhan dan hukumannya berdasarkan Al Qur’an dan Hadits, dijelaskan sebagai berikut :

a. (Al Qatlu bil ‘umdi / ﭐﻟْﻘَﺘْﻞُﺑِﺎﻟْﻌُﻤْﺪِ ) Pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja, merencanakan pembunuhan dalam keadaan jiwa sehat dan penuh kesadaran. Pembunuhan semacam ini dapat dihukum qisas artinya dihukum mati, kecuali dima’afkan oleh pihak keluarga korban dan kepadanya dituntut denda.

b. (Al Qatlu syibhul ‘umdi / ﭐﻟْﻘَﺘْﻞُﺷِﺒْﻪُﭐﻟْﻌُﻤْﺪِ ) Pembunuhan yang terjadi tanpa disengaja dengan alat yang tidak mematikan. Hukumannya adalah penjara atau denda yang cukup berat.

c. (Al Qatlu syibhul ‘umdi / ﭐﻟْﻘَﺘْﻞُﺑِﻐَﻴْﺮِﭐﻟْﻌُﻤْﺪِ ) Pembunuhan karena kesalahan atau kekhilafan semata-mata tanpa direncanakan dan tidak ada maksud sama sekali, misalnya kecelakaan. Hukumannya adalah penjara atau denda ringan.

Ada beberapa sikap yang harus dihindari agar tidak terjadi perselisihan, di antaranya sebagai berikut :

a) Mudah tersinggung

b) Memiliki wawasan sempit

c) Menutupi diri atau sulit menerima pendapat orang lain

d) Tidak bisa beradaptasi atau hidup dalam lingkungan majemuk

e) Tidak mau menerima kenyataan

f) Tidak siap menerima perkembangan zaman

g) Kurang informasi

h) Suka memaksakan kehendak

i) Merasa paling benar

j) Egois

k) Fanatik berlebihan

Untuk memperkecil peluang terjadinya hal-hal buruk, kita harus memupuk perilaku terpuji, baik terhadap diri peribadi mapun terhadap lingkungan atau masyarakat. Hal-hal di bawah ini dapat melatih diri kita untuk membentengi diri dari perilaku tercela, khususnya perbuatan membunuh :

a) Membisakan bersilaturahim

b) Mampu menahan amarah

c) Mampu mema’afkan kesalahan

d) Berbuat adil

e) Memperbanyak berbuat kebaikan

f) Suka menolong

g) Bersikap lemah lembut

h) Meninggalkan hal-hal yang menyangkut riba

i) Meneguhkan hati untuk mengikuti jalan yang lurus/benar

j) Memakan makanan yang halal dan thayyib

k) Senantiasa berdo’a kepada Allah SWT

l) Berlaku lurus terhadap manusia

m) Tidak pelit atau kikir

Sebenarnya masih banyak di antara dosa-dosa besar yang perlu diketahui serta harus dihindari agar jangan melakukannya, dengan banyak membaca keterangan dari ayat-ayat Al Qur’an, Hadits dan penjelasan para ulama, serta referensi yang luas. Maka tentunya dengan membaca, memahami dan menghindari perilaku buruk akan membawa kesematan hidup dunia dan akhirat.

TES FORMATIF 9

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar !

1. Uraikan pengertian dosa berdasarkan keterangan Al Qur’an ?

Jawab :

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

2. Bagaimana cara menghindari dari perbuatan dosa !

Jawab :

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

3. Apa saja kriteria yang tergolong dosa besar !

Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

4. Jelaskan macam-macam syirik !

Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

5. Bagaimana cara menghindari syirik !

Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

6. Jelaskan yang dimaksud dengan “uququl walidain” !

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

7. Apa saja perbuatan yang termasuk bentuk durhaka kepada orang tua ?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8. Apa yang dengan sihir !

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

9. Apa saja macam hukuman bagi perampok ?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

10. Ada 3 macam pembunuhan, jelaskan !

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

11. Sikap apa sajakah yang perlu dihindari agar tidak terjadi perselisihan ?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

TUGAS KEGIATAN BELAJAR 9

Diskusikan bersama teman-teman sekelompok belajarmu dan hasilnya kamu tulis dalam kertas atau dalam bukumu m,asing-masing!

1. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak yang kedua orang tuanya sudah sangat renta dan tidak berdaya/tidak dapat berbuat apa-apa?

2. Carilah beberapa berita (minimal 5) dari koran atau majalah yang memberitakan tentang kasus pembunuhan dan perampokan. Analisislah berita tersebut menyangkut aspek-aspek penyebabnya. Berikanlah solusi dan upaya pencegahannya !

Posted by: syaunarahman | March 24, 2011

April MOP : Hari Di mana UMAT ISLAM dibantai

April Mop: Hari Dimana Umat Islam Dibantai

 

Maret akan segera usai. Bulan April menjelang. Ada suatu kebiasaan jahiliah yang patut kita waspadai bersama sebagai seorang Muslim; 1 April sebagai hari April Mop. April Mop sendiri adalah hari di mana orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Tapi tahukah Anda apakah April Mop itu sebenarnya?

Sejarah April Mop

Sebenarnya, April Mop adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.

Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.

Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan? April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.

Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol.

Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur’an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar meninggalkan Spanyol.

Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.

Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya se-iman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

Jadi, perhatikan sekeliling Anda, anak Anda, atau Anda sendiri, mungkin terkena bungkus jahil April Mop tanpa kita sadari. (sa/berbagaisumber)

Posted by: syaunarahman | March 24, 2011

April Mop Dan Sejarah April Mop

April Mop yang jatuh setiap tanggal 1 April, yakni hari dimana penipuan dan bohong di legalkan juga di maklumkan, anda di bebaskan secara tradisi untuk berdusta demi mengerjai teman anda – dan teman anda seharusnya tidak boleh marah – jika nanti ia tahu bahwa dirinya sengaja di bohongi dan di kerjai, karena itu adalah April Mop

Banyak catatan yang mengenai April Mop, namun di temukan kesimpang siuran mengenai asal muasal tradisi melegalkan kebohongan ini! Karena tidak jelas siapa yang memulainya dan tiap negara punya versi sendiri

Sejarah April Mop

Menurut Asal Usul, bahwa tradisi April Mop atau April Fools Day telah di kenal di negeri Perancis pada tahun 1582, pada pemerintahan Raja Charles IX. Kejadian ini bermula di saat Paus Gregory XIII melakukan modifikasi terhadap penanggalan, yakni semula 1 tahun adalah 10 bulan, di rubah olehnya menjadi 12 bulan hingga seperti sekarang

Namun tidak semua masyarakat Perancis saat itu setuju dengan perubahan Paus Gregory lakukan, sebagian dari mereka tetap merayakan tahun baru dimulai pada tanggal 25 Maret hingga puncaknya tanggal 1 April. Dan tindakan mereka, di cemooh oleh masyarakat lain yang setuju perubahan tersebut, dan mengerjai mereka, dengan memberi undangan palsu dan alamat palsu

Korban dari lelucon April Mop dikenal juga sebagai “Poisson d’Avril” atau ikan April di mana istilah ini diambil dari pergerakan Matahari yang meninggalkan zodiak Pisces (zodiak Pisces berlambang ikan dan berada di kisaran tanggal 20 Februari – 20 Maret)

Namun menurut situs EraMuslim, tradisi April Mop bermula dari pembantaian kaum Muslim Granada di Spanyol oleh pasukan Salib. Saat itu Granada merupakan daerah terakhir di Spanyol yang di taklukan oleh pasukan Salib. Setelah seluruh Granada terkepung dan di duduki, sipilMuslim bertahan dan bersembunyi di rumah mereka masing-masing. Kemudian tentara Salib mengumumkan bahwa mereka akan membiarkan seluruhMuslim Granada keluar dari Spanyol dengan menaiki kapal-kapal yang telah mereka siapkan di pelabuhan

Singkat cerita sebagian besar Muslim Granada mempercayai janji itu, dan mereka keluar dari rumah-rumah mereka beriringan menuju pelabuhan, sesampainya di pelabuhan, ternyata kapal-kapal yang di janjikan di tenggelamkan oleh pasukan Salib lalu seluruh kaumMuslim yang berjumlah ribuan orang di bantai habis berserta Muslim lain yang bertahan di rumah-rumah mereka yang dibakar

Posted by: syaunarahman | March 24, 2011

April Mop yang jatuh setiap tanggal 1 April, yakni hari dimana penipuan dan bohong di legalkan juga di maklumkan, anda di bebaskan secara tradisi untuk berdusta demi mengerjai teman anda – dan teman anda seharusnya tidak boleh marah – jika nanti ia tahu bahwa dirinya sengaja di bohongi dan di kerjai, karena itu adalah April Mop

Banyak catatan yang mengenai April Mop, namun di temukan kesimpang siuran mengenai asal muasal tradisi melegalkan kebohongan ini! Karena tidak jelas siapa yang memulainya dan tiap negara punya versi sendiri

Sejarah April Mop

Menurut Asal Usul, bahwa tradisi April Mop atau April Fools Day telah di kenal di negeri Perancis pada tahun 1582, pada pemerintahan Raja Charles IX. Kejadian ini bermula di saat Paus Gregory XIII melakukan modifikasi terhadap penanggalan, yakni semula 1 tahun adalah 10 bulan, di rubah olehnya menjadi 12 bulan hingga seperti sekarang

Namun tidak semua masyarakat Perancis saat itu setuju dengan perubahan Paus Gregory lakukan, sebagian dari mereka tetap merayakan tahun baru dimulai pada tanggal 25 Maret hingga puncaknya tanggal 1 April. Dan tindakan mereka, di cemooh oleh masyarakat lain yang setuju perubahan tersebut, dan mengerjai mereka, dengan memberi undangan palsu dan alamat palsu

Korban dari lelucon April Mop dikenal juga sebagai “Poisson d’Avril” atau ikan April di mana istilah ini diambil dari pergerakan Matahari yang meninggalkan zodiak Pisces (zodiak Pisces berlambang ikan dan berada di kisaran tanggal 20 Februari – 20 Maret)

Namun menurut situs EraMuslim, tradisi April Mop bermula dari pembantaian kaum Muslim Granada di Spanyol oleh pasukan Salib. Saat itu Granada merupakan daerah terakhir di Spanyol yang di taklukan oleh pasukan Salib. Setelah seluruh Granada terkepung dan di duduki, sipilMuslim bertahan dan bersembunyi di rumah mereka masing-masing. Kemudian tentara Salib mengumumkan bahwa mereka akan membiarkan seluruhMuslim Granada keluar dari Spanyol dengan menaiki kapal-kapal yang telah mereka siapkan di pelabuhan

Singkat cerita sebagian besar Muslim Granada mempercayai janji itu, dan mereka keluar dari rumah-rumah mereka beriringan menuju pelabuhan, sesampainya di pelabuhan, ternyata kapal-kapal yang di janjikan di tenggelamkan oleh pasukan Salib lalu seluruh kaumMuslim yang berjumlah ribuan orang di bantai habis berserta Muslim lain yang bertahan di rumah-rumah mereka yang dibakar

Posted by: syaunarahman | March 24, 2011

April Mop yang jatuh setiap tanggal 1 April, yakni hari dimana penipuan dan bohong di legalkan juga di maklumkan, anda di bebaskan secara tradisi untuk berdusta demi mengerjai teman anda – dan teman anda seharusnya tidak boleh marah – jika nanti ia tahu bahwa dirinya sengaja di bohongi dan di kerjai, karena itu adalah April Mop

Banyak catatan yang mengenai April Mop, namun di temukan kesimpang siuran mengenai asal muasal tradisi melegalkan kebohongan ini! Karena tidak jelas siapa yang memulainya dan tiap negara punya versi sendiri

Sejarah April Mop

Menurut Asal Usul, bahwa tradisi April Mop atau April Fools Day telah di kenal di negeri Perancis pada tahun 1582, pada pemerintahan Raja Charles IX. Kejadian ini bermula di saat Paus Gregory XIII melakukan modifikasi terhadap penanggalan, yakni semula 1 tahun adalah 10 bulan, di rubah olehnya menjadi 12 bulan hingga seperti sekarang

Namun tidak semua masyarakat Perancis saat itu setuju dengan perubahan Paus Gregory lakukan, sebagian dari mereka tetap merayakan tahun baru dimulai pada tanggal 25 Maret hingga puncaknya tanggal 1 April. Dan tindakan mereka, di cemooh oleh masyarakat lain yang setuju perubahan tersebut, dan mengerjai mereka, dengan memberi undangan palsu dan alamat palsu

Korban dari lelucon April Mop dikenal juga sebagai “Poisson d’Avril” atau ikan April di mana istilah ini diambil dari pergerakan Matahari yang meninggalkan zodiak Pisces (zodiak Pisces berlambang ikan dan berada di kisaran tanggal 20 Februari – 20 Maret)

Namun menurut situs EraMuslim, tradisi April Mop bermula dari pembantaian kaum Muslim Granada di Spanyol oleh pasukan Salib. Saat itu Granada merupakan daerah terakhir di Spanyol yang di taklukan oleh pasukan Salib. Setelah seluruh Granada terkepung dan di duduki, sipilMuslim bertahan dan bersembunyi di rumah mereka masing-masing. Kemudian tentara Salib mengumumkan bahwa mereka akan membiarkan seluruhMuslim Granada keluar dari Spanyol dengan menaiki kapal-kapal yang telah mereka siapkan di pelabuhan

Singkat cerita sebagian besar Muslim Granada mempercayai janji itu, dan mereka keluar dari rumah-rumah mereka beriringan menuju pelabuhan, sesampainya di pelabuhan, ternyata kapal-kapal yang di janjikan di tenggelamkan oleh pasukan Salib lalu seluruh kaumMuslim yang berjumlah ribuan orang di bantai habis berserta Muslim lain yang bertahan di rumah-rumah mereka yang dibakar

Posted by: syaunarahman | March 24, 2011

April Mop yang jatuh setiap tanggal 1 April, yakni hari dimana penipuan dan bohong di legalkan juga di maklumkan, anda di bebaskan secara tradisi untuk berdusta demi mengerjai teman anda – dan teman anda seharusnya tidak boleh marah – jika nanti ia tahu bahwa dirinya sengaja di bohongi dan di kerjai, karena itu adalah April Mop

Banyak catatan yang mengenai April Mop, namun di temukan kesimpang siuran mengenai asal muasal tradisi melegalkan kebohongan ini! Karena tidak jelas siapa yang memulainya dan tiap negara punya versi sendiri

Sejarah April Mop

Menurut Asal Usul, bahwa tradisi April Mop atau April Fools Day telah di kenal di negeri Perancis pada tahun 1582, pada pemerintahan Raja Charles IX. Kejadian ini bermula di saat Paus Gregory XIII melakukan modifikasi terhadap penanggalan, yakni semula 1 tahun adalah 10 bulan, di rubah olehnya menjadi 12 bulan hingga seperti sekarang

Namun tidak semua masyarakat Perancis saat itu setuju dengan perubahan Paus Gregory lakukan, sebagian dari mereka tetap merayakan tahun baru dimulai pada tanggal 25 Maret hingga puncaknya tanggal 1 April. Dan tindakan mereka, di cemooh oleh masyarakat lain yang setuju perubahan tersebut, dan mengerjai mereka, dengan memberi undangan palsu dan alamat palsu

Korban dari lelucon April Mop dikenal juga sebagai “Poisson d’Avril” atau ikan April di mana istilah ini diambil dari pergerakan Matahari yang meninggalkan zodiak Pisces (zodiak Pisces berlambang ikan dan berada di kisaran tanggal 20 Februari – 20 Maret)

Namun menurut situs EraMuslim, tradisi April Mop bermula dari pembantaian kaum Muslim Granada di Spanyol oleh pasukan Salib. Saat itu Granada merupakan daerah terakhir di Spanyol yang di taklukan oleh pasukan Salib. Setelah seluruh Granada terkepung dan di duduki, sipilMuslim bertahan dan bersembunyi di rumah mereka masing-masing. Kemudian tentara Salib mengumumkan bahwa mereka akan membiarkan seluruhMuslim Granada keluar dari Spanyol dengan menaiki kapal-kapal yang telah mereka siapkan di pelabuhan

Singkat cerita sebagian besar Muslim Granada mempercayai janji itu, dan mereka keluar dari rumah-rumah mereka beriringan menuju pelabuhan, sesampainya di pelabuhan, ternyata kapal-kapal yang di janjikan di tenggelamkan oleh pasukan Salib lalu seluruh kaumMuslim yang berjumlah ribuan orang di bantai habis berserta Muslim lain yang bertahan di rumah-rumah mereka yang dibakar

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.