Posted by: syaunarahman | April 3, 2011

STANDAR KOMPETENSI 9 : MENGHINDARI PERILAKU TERCELA (TENTANG PERBUATAN DOSA BESAR) KELAS XI SMK Negeri 48 JAKARTA

STANDAR KOMPETENSI 9

MENGHINDARI PERILAKU TERCELA

(AL AKHLAQUL MADZMUMAH)

Oleh : Drs. Abd. Rohman

TENTANG PERBUATAN DOSA BESAR

clip_image002

Dalam bab ini akan dijelaskan tentang pengertian dosa. Dalil Naqli berkenaan tentang perbuatan dosa besar, contoh perbuatan dosa dosar dan yang berhubungan dengan kerugian dosa besar, menghindari perbuatan dosa besar, serta penerapan sikap perilaku untuk menghindarinya dalam kehidupan sehari-hari.

TUJUAN MODUL :

Siswa dapat :

1. Menjelaskan pengertian pengertian dosa.

2. Menjelaskan dalil naqli berkenaan perbuatan dosa besar

3. Menjelaskan contoh perbuatan dosa dosar dan yang berhubungan dengan kerugian dosa besar

4. Menjelaskan menghindari perbuatan dosa besar

5. Menerapkan sikap dan perilaku yang mencerminkan untuk menghindari perbuatan dosa besar dalam kehidupan sehari-hari

Segala yang ada dalam modul ini dikerjakan secara mandiri dengan bantuan guru baik individu maupun kelompok.

Bagaimana cara mempelajari modul ini ?

Untuk mudahnya kita ikuti petunjuk belajar berikut ini :

1. Baca uraian materi pada tiap-tiap kegiatan dengan baik.

2. Kerjakan semua latihan dan tugas-tugas yang terdapat dalam modul

3. Setelah mengerjakan secara tuntas tanyakan kunci jawaban kepada guru

4. Catatlah bagian-bagian yang belum anda pahami kemudian diskusikan dengan teman anda atau tanyakan kepada guru atau oang yang dianggap mampu

5. Bila anda belum menguasai 75% dari kegiatan maka ulangi kembali langkah-langkah dengan seksama.

Tadarus

clip_image001 Q.S. Al ‘Imraan : 135

clip_image004Artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Q.S. An Nisa {3} : 135)

[229]. Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

clip_image001[1] Q.S. An Nisa : 31

clip_image006

Artinya : “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. (Q.S. An Nisa {4} : 31)

clip_image001[2] Q.S. An Nisa : 48

clip_image008

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (Q.S. An Nisa {4} : 48)

clip_image001[3] Q.S. An Nisa : 2

clip_image010

Artinya : “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”. (Q.S. An Nisa {4} : 2)

clip_image001[4] Q.S. Al Israa : 31

clip_image012

Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Q.S. An Nisa {17} : 31)

[

A. DESKRIPSI

Akhlak tercela semua perbuatan atau akhlak yang sangat tidak disukai. Allah mencela dan tidak menyukainya, orang lain juga tidak menyukainya, sebab perbuatan itu adalah termasuk perbuatan buruk. Orang beriman akan senantiasa selalu menghindarinya dan tidak akan melakukannya. Perilaku tercela yang akan kita pelajari yaitu tentang dosa besar. Dosa-dosa besar itu banyak sekali, ada yang menyebut 70 sampai dengan 90-an. Adapun contoh-contoh dosa-dosa besar, antara lain, syirik atau menyekutukan Allah, durhaka terhadap kedua orang tua, menjadi saksi palsu, membunuh, berzina, dan sebagainya.

B. Perbuatan Dosa

v Pengertian berbuat dosa

Sebelum menguraikan dosa besar, terlebih dahulu dijelaskan pengertian dosa. Perbuatan dosa adalah perbuatan melanggar hukum agama (Islam) yang tercantum di dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Sedangkan yang dimaksud dengan berbuat dosa adalah meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, yang dimaksud dengan dosa besar adalah dosa yang dilakukan dengan sengaja dan berulang-ulang, di samping itu memang ada dosa yang sudah termasuk katagori dosa besar. Adapun tanda-tanda seseorang telah berbuat dosa adalah apabila perbuatan yang telah ia lakukan, terasa salah dalam hati, dan merasa tidak senang atau malu bila orang lain mengetahuinya. Seorang sahabat Nabi s.a.w. yang bernama Wabishah bin Ma’bad berkunjung ke kediaman Rasulullah s.a.w., lalu ia bertanya tentang kebaikan, maka Rasulullah s.a.w. balik bertanya :

ﺟِﺌْﺖَﺗَﺴْﺄَﻝُﻋَﻦِﭐﻟْﺒِﺮﱢﹴ؟ﻗُﻠْﺖُ؛ﻧَﻌَﻢْ٬ﻗَﺎﻝَ؛ﺍِﺳْﺘَﻔْﺖِﻗَﻠْﺒَﻚَ٬ﺍَﻟْﺒِﺮﱡﻣَﺎﭐﻃْﻤَﺄَﻧﱠﺖْﺇِﻟَﻴْﻪِﭐﻟﻨﱠﻔﹿﺲُﻭَﭐﻃْﻤَﺄَﻥﱠﺇِﻟﹷﻴْﻪِﭐﻟْﻘَﻠْﺐُ٬ﻭَﭐﻹِﺛْﻢُﻣﹷﺎﺣَﺎﻙَﻓِﻰﭐﻟﻨﱠﻔْﺲِﻭَﺗَﺮَﺩﱠﺩَﻓِﻰﭐﻟﺼﱠﺪْﺭِﻭَﺇِﻥِﭐﻓْﺘﹷﺎﻙَﭐﻟﻨﱠﺎﺱُﻭَﭐﻓْﺘُﻮْﻙَ

( ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺣْﻤﹷﺪُﻭَﭐﻟﺘُﱡﺮْﻣُﺬِﻱﱡٌِ )

“Engkau datang menanyakan apa itu kebaikan ?” Benar, ya Rasulullah”, Jawab Wabishah, Rasulullah bersabda, “Minta fatwalah kepada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang menyebabkan ketenangan jiwa dan ketentraman hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang lain memberi fatwa kepadamu”. (H.R. Ahmad dan Turmudzi)

Dalam riwayat hadits lainnya disebutkan :

عَنْ اَلنَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ اَلْبِرِّ وَالْإِثْمِ? فَقَالَ: ( اَلْبِرُّ حُسْنُ اَلْخُلُقِ, وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ اَلنَّاسُ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Nawas Ibnu Sam'an Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau bersabda: "Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya." Riwayat Muslim.

Ada beberapa istilah kata yang digunakan dalam Al Qur’an yang mengandung makna dosa, yaitu :

1. Al Itsmu ( ﭐْْﻹِﺛْﻢُ ) sejumlah 44 x, di antaranya dalam Q.S. {2} : 219

2. Adz Dzanbu ( ﭐﻟﺬﱠﻧْﺐُ ) sejumlah 48 x, di antaranya dalam Q.S. {3} : 135

3. Al Khith’u ( ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُ ) sejumlah 22 x, di antaranya dalam Q.S. {17} : 31

4. As Sayyiat ( ﭐﻟﺴﱠﻴﱢﺌَﺔُ ) sejumlah 176 x, di antaranya dalam Q.S. {20} : 22

5. Al Huub ( ﭐﻟﺤُﻮْﺏُ ) sejumlah 1 x, yang terdapat dalam Q.S. {4} : 2

Dari istilah kata tersebut bila diambil pengertian sebagai berikut :

· Al Itsmu ( ﭐْْﻹِﺛْﻢُﻫُﻮَﻋَﻤِﻞَﻣَﺎﻻَﻳَﺤِﻞﱡ ) artinya “mengerjakan sesuatu yang tidak halal bagi agama”, maksudnya tindakan yang menghambat terwujudnya kebaikan (pahala), karena membahayakan jasmani, jiwa, akal, harta benda (materi). Firman Allah Q.S. Al Baqarah : 219 ;

clip_image014

Artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”. (Q.S. Al Baqarah {2} : 219)

· Adz Dzanbu (ﭐﻟﺬﱠﻧْﺐُﻫُﻮَﺗَﺒِﻌَﻪُﻓَﻠَﻢْﻳُﻔَﺮﱢﻕْﺇِﺳْﺮَﻩُ) artinya “menyertai dan tidak dapat berpisah”. Mengacu pada perbuatan dosa yang paling jelek, dosa kepada Allah s.w.t. dan manusia. Firman Allah Q.S. Ali ‘Imran : 135 ;

clip_image016

Artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Q.S. Al ‘Imrän {3} : 135)

[229]. Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

· Al Khith’u (ﻫُﻮَﻣَﺎﻟَﻢْﻳُﺘَﻌَﻤﱠﺪْﻣِﻦَﭐﻟْﻔِﻌْﻞ ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُ ) maksudnya “melenceng dari yang sebenarnya”. a. Niat mengerjakan yang salah, kemudian benar-benar dikerjakan kesalahan seperti ini dinamakan al khit’ut taam ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُﭐﻟﺘﳲﺎﻡُ (betul-betul salah). b. Niat mengerjakan sesuatu yang boleh dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya, dengan kata lain, benar niatnya, tetapi tindakan salah. c. Niat mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi yang dilakukan sebaliknya, yaitu perbuatan yang boleh dilakukan. Yanh disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Dari sekian banyak ayat Al Qur’an yang mengandung kata ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُ dapat dipahami bahwa kata ini digunakan untuk menyebut dosa yang bervariasi, misalnya ; dosa kepada Allah, dan dosa kepada sesama manusia. Contoh ungkapan kata ﭐﻟْﺨِﻄْﺄُ dalam ayat al Qur’an :

clip_image018

Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. (Q.S. Al Isrā {17} : 31)

· As Saŷiah – ﭐﻟﺴُﻮْﺀُﹴﻫُﻮَﻛُﻞﱡﻣَﺎﻳَﻌُﻢﱡﭐْﻹِﻧْﺴَﺎﻥَﻣِﻦَﭐْﻷُﻣُﻮْﺭِﭐﻟﺪﱡﻧْﻴَﻮِﻳﱠﺔِﻭَﭐْﻷُﺧْﺮَﻭِﻳﱠﺔِ / ﭐﻟﺴﱠﻴﱢﺌَﺔُ )

( ﻭَﻣِﻦَﺍْﻷَﺣْﻮَﺍﻝِﭐﻟﻨﱠﻔْﺴﹻﻴﱠﺔِﻭَﭐﻟﺒَﺪَﻧِﻴﳲﺔِﻭﭐﻟْﺨَﺎﺭِﺟَﺔِﻣِﻦْﻓَﻮَﺍﺕِﻣَﺎﻝٍﻭَﺟَﺎﻩٍﻭَﻓَﻘْﺪِﺣَﻤِﻴْﻢٍ

Artinya : “ segala sesuatu yang dapat menyusahkan manusia, baik masalah keakhiratan, atau baik masalah keduniaan maupun masalah keahiratan, atau baik masalah yang terkait dengan kejiwaan atau jasmani, yang diakibatkan oleh hilangnya harta benda, kedudukan dan meninggalnya orang-orang yang disayangi”. Termasuk yang terkandung dari pengertian sü’ atau as saŷiah antara lain perbuatan :

- Perzinaan (Q.S. An Nisa {4} : 22)

- Menjadikan syetan sebagai teman (Q.S. An Nisa {4} : 38)

- Mengubur hidup-hidup anak perempuan seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyyah (Q.S. An Nisa {4} : 58 – 59)

- Dosa kecil (Q.S. An Nisa {4} : 31)

Salah satu ayat yang menjelaskan seperti yang tersebut pada Q.S. An Nisa {4} : 79 adalah ;

clip_image020

Artinya : “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (Q.S. An Nisa {4} : 79)

· Al Huub ( ﭐﻟﺤُﻮْﺏُ ) senonim dengan kata ﭐْْﻹِﺛْﻢُ . Firman Allah s.w.t. tentang huub pada Q.S. An Nisa {4} : 2 ;

clip_image021

Artinya : “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.

Apakah yang mendorong seseorang melakukan dosa ? Pada dasarnya seseorang melakukan dosa karena orang tersebut tidak mampu memerangi godaan syetan. Hal ini disebabkan karena imannya yang masih lemah atau belum memiliki keyakinan yang kuat kepada kebenaran agamanya. Dosa ada yang kecil dan ada yang besar. Dosa kecil sering dilakukan manusia tanpa disengaja, tetapi manusia tetap harus berusaha sekuat tenaga untuk menghindarkan diri dari dosa, baik yang besar maupun yang kecil. Cara menghapus dosa kecil yang diperbuat manusia, ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w., antara lain.

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ رواه مسلم.

Artinya : “Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat jum’at lainnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan.” (HR. Muslim).

Adapun perbuatan yang termasuk dosa besar dan dapat merusak iman seseorang dijelaskan sabda Rasulullah s.a.w., sebagai berikut :

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., bersabda: "Jauhilah tujuh macam hal yang merusakkan." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah.apakah tujuh macam hal itu?" Beliau s.a.w bersabda:
"Yaitu menyekutukan sesuatu dengan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, melainkan dengan hak – yakni berdasarkan kebenaran menurut syariat Agama Islam – makan harta riba, makan harta anak yatim, mundur pada hari berkecamuknya peperangan serta mendakwa kaum wanita yang muhshan – pernah bersuami-lagi mu’min dan pula lalai -dengan dakwaan melakukan zina. (Muttafaq ‘alaih)

v Bahaya perbuatan dosa

a) Dapat merusak iman dan Islam seseorang

b) Menyebabkan seseorang sulit menerima nasihat agama

c) Menyebabkan seseorang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu

d) Menyebabkan seseorang tidak memperoleh ketenangan dalam hidup

e) Menyebabkan seseorang memperoleh siksa kelak pada hari qiamat

v Ciri perbuatan dosa besar

a) Mendapat sanksi berupa azab dari Allah SWT

b) Mendapat sanksi berupa laknat dari Allah SWT

c) Dapat menghapus iman

d) Larangannya berulang kali

e) Penyebab merajalelanya kemungkaran

f) Pelakunya mendapat hukuman di dunia sesuai kapasitas dosa yang dilakukannya

g) Ditandai ungkapan “kemaksiyatan dapat merusak kebaikan”

h) Ditandai dengan ungkapan “Allah tidak suka melihat pelaku dosa

v Cara menghindari perbuatan dosa

a) Selalu mengingat Allah di mana saja berada

Rasulullah s.a.w. bersabda :

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ "

[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Artinya : Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”.
(HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih)

b) Menyadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, sedangkan hidup yang abadi adalah setelah kita melewati yaumul hisab nanti di kemudian hari

c) Selalu berdzikir kepada Allah SWT

d) Selalu bertaubat dan beristighfar kepada Allah

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ اَلْخَطَّائِينَ اَلتَّوَّابُونَ )  أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ وَسَنَدُهُ قَوِيٌّ

Artinya : “Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat. Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Sanadnya kuat.

e) Bergaul dengan orang-orang yang saleh, karena pergaulan yang tidak islami akan membawa malapetaka bagi diri kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْمُؤْمِنُ مِرْآةُ اَلْمُؤْمِنِ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Artinya : “Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang mukmin." Riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan.

f) Selektif dalam memilih teman

g) Menjauhkan diri dari tempat-tempat yang di dalamnya terdapat maksiat

h) Selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT

i) Meneladani kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang yang saleh.

Mendapat sanksi berupa laknat

Macam-macam Dosa Besar

Dosa besar disebut dengan istilah Al-Kabair. Dosa besar yang paling besar dan tidak akan diampuni oleh Allah swt, yaitu dosa syirik atau menyekutukan Allah, dan dosa besar kedua ialah durhaka kepada kedua orang tua. Adapun perbuatan dosa besar yang dapat merusak iman seseorang dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW sebagai berikut :

ﻋَﻦْﺃَﺑِﻲْﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَﺭﺽ،ﻋَﻦِﭐﻟﻨﱠﺒِﻲﱢﻗَﺎﻝَ؛اِﺟْﺘَﻨِﺒُﻮْﺍﻟﺴﱠﺒْﻊَﭐﻟْﻤُﻮْﺑِﻘَﺎﺕِ٬ﻗَﺎﻟُﻮْﺍﻳَﺎﺭَﺳُﻮْﻝَﭐﷲِ٬ﻭَﻣَﺎﻫُﻦﱠ؟ﻗَﺎﻝَ؛ﭐﻟﺸﱢﺮْﻙُﺑِﺎﷲِ٬ﻭَﭐﻟﺴﱢﺤْﺮُ٬ﻭَﻗَﺘْﻞُﭐﻟﻨﱠﻔْﺲِﭐﻟﱠﺘِﻲْﺣَﺮﱠﻡَﭐﷲُﺇِﻻﱠﺑِﺎﻟْﺤَﻖﱢ٬ﻭَﺃَﻛْﻞُﻣَﺎﻝِﭐﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ٬ﻭَﭐﻟﺘﱠﻮَﻟﱢﻰﻳَﻮْﻡَﭐﻟﺰﱠﺣْﻒِ٬ﻭَﻗَﺬْﻑُﭐﻟْﻤُﺤْﺼَﻨﹷﺎﺕِﭐﻟْﻤﹹﺆْﻣِﻨﹷﺎﺕِﭐﻟْﻐﹷﺎﻓﹻﻼَﺕِ

( ﻣُﺘﱠﻔَﻖٌﻋَﻠَﻴْﻪِ )

Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a.,dari Rasulullah s.a.w. bersabda,”Jauhilah tujuh macam dosa besar yang membinasakan”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketujuh macam dosa itu ?” beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa (manusia) yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari pada saat pertempuran, dan menuduh berbuat zina terhadap wanita-wanita yang selalu menjaga diri dan tidak pernah berpikir (untuk berzina). (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari Thaisalah bin Mayyas, dia berkata, :

كُنْتُ مَعَ النَّجَدَاتِ، فَاَصَبْتُ ذُنُوْبًا لاَ أَرَاهَا اِلاَّ مِنَ الْكَبَائِرِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لاِبْنِ عُمَرَ قَالَ: مَا هِيَ؟ قُلْتُ: كَذَا وَكَذَا؟ قَالَ: لَيْسَتْ هَذِهِ مِنَ الْكَبَائِرِ، هُنَّ تِسْعٌ : اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَقَتْلُ نَسْمَةٍ، وَالْفِرَارُ مِنَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَةِ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ، وَاِلْحَادُ فِي الْمَسْجِدِ، وَالَّذِي يَسْتَسْخِرُ، وَبُكَاءُ الْوَالِدَيْنِ مِنَ الْعُقُوْقِ قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتُفِرَّقُ مِنَ النَّارِ وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: أَىْ وَاللهِ! قَالَ: أَحَىُّ وَالِدُاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِي أُمِّى، قَالَ: فَوَاللهِ! لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ ﺭَﻭَﺍﻩُٱﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡﻓﻲﺍٰﺩﺏٱﻟﻤﻔﺮﺍﺩ

Artinya : "Aku bersama orang-orang keturunan Najdah bin Amir Al Khariji, yang membuat aku banyak melakukan dosa-dosa besar. Kemudian aku melaporkannya kepada Ibnu Umar, seraya bertanya, "Apa dosa-dosa itu?" Aku menjawab, "Ini dan itu." Ibnu Umar berkata, "Itu tidak termasuk dosa-dosa besar. Dosa-dosa besar itu, ada sembilan, yaitu menyekutukan Allah, membunuh orang, lari dari peperangan, menuduh zina kepada wanita mukmin, memakan harta riba, mengambil harta anak yatim, melenceng di masjid, orang yang suka menghina (mengejek), dan (menyebabkan) orang tua menangis karena durhaka (kepada keduanya)." Ibnu Umar berkata, kepadaku, "Apakah engkau takut dari neraka dan ingin masuk surga?" Saya berkata, "Apa benar, demi Allah?," Ibnu Umar berkata, "Apakah orang tuamu masih hidup?" Saya menjawab, "Ibu saya masih hidup." Ibnu Umar berkata, "Demi Allah! sekiranya engkau berbicara lemah lembut kepadanya dan memberi makan kepadanya, maka niscaya engkau benar-benar akan masuk surga selama dosa-dosa besar itu dijauhi." (H.R. Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad, Shahih, dalam kitab Ash-Shahihah (2898). 7/9.)

1. Syirik

Syirik artinya menyekutukan Allah swt. Syirik adalah dosa besar dan tak diampuni oleh Allah swt. Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’ ayat 116

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

) النساء : ۱۱٦ (

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu). Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehdaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh ia telah tersesat jauhnya sekali. (Q.S. An Nisa {4} : 116)

Dalam kitab Al Bayan yang ditulis oleh Prof. Dr. Hasbi Ash Shiddiqiy, ia menguraikan macam syirik, yaitu sebagai berikut :

a. Syirik Istiqlal, pengakuan pada adanya dua tuhan yang masing-masing berdiri sendiri.

b. Syirik Tad’id, yaitu bahwa tuhan itu terdiri dari beberapa tuhan (polytheisme).

c. Syirik Taqrib, yaitu menyembah kepada selain Allah dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah.

d. Syirik Taqlid, yaitu menyembah kepada selain Allah karena bertaqlid atau mengikuti apa yang telah diperbuat oleh nenek moyangnya.

e. Syirik Sebab, yaitu menyandarkan sesuatu yang telah terjadi kepada selain Allah.

f. Syirik Garad, yaitu mengerjakan ibadah dan amal saleh bukan karena Allah, tetapi karena maksud keduniaan (ria dan sum’ah). Perbuatan ria dan sum’ah termasuk syirik kecil, akan tetapi pelakunya tidak dianggap kufur. Adapun pelaku syirik istiqlal, tab’id, taqrib, dan taqlid dapat dianggap kufur.

Akibat buruk atau bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan syirik (sehingga kita harus menjauhinya) antara lain sebagai berikut :

a. Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik, apabila ia tidak bertaubat dengan taubat nasuha.

clip_image023

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar “. (Q.S. An Nisa : 48)

b. Allah mengharamkan masuk surga bagi orang musyrik.

clip_image025

Artinya : “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun “(Q.S. Al Maidah : 72)

c. Pelecehan martabat manusia, manusia diberi amanah oleh Allah untuk menjadi khalifah di bumi (memimpin seluruh makhluk). Seseorang yang musyrik berarti menyembah kepada yang dipimpinnya. Ini berarti menurunkan martabatnya sebagai manusia selaku khalifah Allah.

d. Orang yang musyrik akan rusak akhlaknya, sehingga tingkah lakunya dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, seperti : rakus, keji, kejam, dengki, penakut, dan berani membuat syari’at sendiri.

e. Orang musyrik adalah najis sehingga haram masuk masjidil haram. (lih. Q.S. At Taubah : 28)

f. Berbuat kezaliman terbesar.

clip_image027

Artinya : “ …sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar “

g. Menyebarkan hal-hal yang negatif dalam kehidupan manusia.

2. Durhaka terhadap kedua orang tua

Orang yang paling banyak jasanya dan paling dekat dengan kita adalah kedua orang tua, yaitu : ibu dan bapak. Seorang yang durhaka terhadap kedua orang tua adalah termasuk dosa besar. Perbuatan yang termasuk di dalamnya, antara lain : membentak , menghardik, berkata yang tidak sopan atau berkata yang bersifat meremehkannya, dan menyakiti hati atau persaan orang tua. Agama Islam melarang anak durhaka terhadap Ibu dan Bapaknya. Yang dimaksud durhaka terhadap kedua orang tua yaitu menyakiti baik secara lahiriah maupun batiniah. Dalam Al Qur’an ditegaskan tentang kewajiban berbakti kepada keduanya, jangan sekali-kali menyakitinya;

clip_image029

Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil “ (Q.S. Al Isra : 23-24)

[850]. Mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ اَلْمُغِيرَةِ بْنِ سَعِيدٍ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( إِنَّ اَللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ اَلْأُمَّهَاتِ, وَوَأْدَ اَلْبَنَاتِ, وَمَنْعًا وَهَاتِ, وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ, وَكَثْرَةَ اَلسُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ اَلْمَالِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Artinya: “Dari al-Mughirah Ibnu Syu’bah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menahan dan menuntut; dan Dia tidak suka kalian banyak bicara, banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan harta." Muttafaq Alaihi.

Dosa karena durhaka, bukan saja di akhirat akan diterimakan azab yang berat dan dahsyat, akan tetapi Allah juga akan mempercepat azab di dunia ini.

Nabi Muhammad saw. Bersabda:

Artinya: “Tiap-tiap dosa diturunkan Tuhan (pembalasan menurut kehendak-Nya) kecuali dosa durhaka terhadap ibu bapak. Tuhan mempercepat (pembalasan itu) terhadap orang yang melakukannya di dunia (ini), sebelum yang bersangkutan mati.” (H.R. Hakim)

Anak yang durhaka kepada orang tua akan mendapat murka Allah sebagaimana hadits dari Abdullah bin ‘amr bin ‘ash, dari Rasulullah s.a.w. bersabda :

عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ )  أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Artinya: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua." (H.R. Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim)

Bentuk-bentuk perbuatan durhaka kepada orang tua :

1. Tidak memberikan nafkah kepada orang tua bila mereka membutuhkan.

2. Tidak melayani mereka dan berpaling darinya. Lebih durhaka lagi bila menyuruh orang tua melayani dirinya.

3. Mengumpat kedua orang tuanya di depan orang banyak dan menyebut-nyebut kekurangannya.

4. Mencaci dan melaknat kedua orang tuanya.

5. Menajamkan tatapan mata kepada kedua orang tua ketika marah atau kesal kepada mereka berdua karena suatu hal.

6. Membuat kedua orang tua bersedih dengan melakukan sesuatu hal, meskipun sang anak berhak untuk melakukannya. Tapi ingat, hak kedua orang tua atas diri si anak lebih besar daripada hak si anak.

7. Malu mengakui kedua orang tuanya di hadapan orang banyak karena keadaan kedua orang tuanya yang miskin, berpenampilan kampungan, tidak berilmu, cacat, atau alasan lainnya.

8. Enggan berdiri untuk menghormati orang tua dan mencium tangannya.

9. Duduk mendahului orang tuanya dan berbicara tanpa meminta izin saat memimpin majelis di mana orang tuanya hadir di majelis itu. Ini sikap sombong dan takabur yang membuat orang tua terlecehkan dan marah.

10. Mengatakan “ah” kepada orang tua dan mengeraskan suara di hadapan mereka ketika berselisih.

Dalam kitab “Birrul Walidain” oleh Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, menyebutkan di antara bentuk durhaka (uquq) kepada orang tua ialah :

{1} Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan ataupun hal lainnya yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.

{2} Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.

{3} Membentak atau menghardik orang tua.

{4} Bakhil, tidak mengurusi orang tua bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tua padahal orang tua sangat membutuhkan. Seandai memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.

{5} Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, ‘kolot’ dan lain-lain.

{6} Menyuruh orang tua, misal menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi jika ‘Si Ibu” melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauan sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.

{7} Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.

{8} Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan tega mengusir ibu demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.

{9} Memasukkan kemungkaran kedalam rumah misal alat musik, mengisap rokok, dan lain lain.

{10} Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggal ketika status sosial meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini ialah sikap yg amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

Seorang anak, wajib berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Berbuat baik terhadap kedua orang tua tidak terbatas semasa keduanya masih hidup, akan tetapi sesudah meninggal pun masih diwajibkan untuk berbuat baik terhadap keduanya.

Cara berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal dunia, antara lain:

a. Menyalatkan kedua orang tua ketika meninggal dunia.

b. Mendoakan dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Doa memohon ampunan kepada Allah swt..

clip_image031

Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu dan bapakku dan semua, serta sekalian orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat)”. (Q.S. Ibrähïm {14} : 41)

c. Melaksanakan janji-janji apabila keduanya meninggalkan wasiat.

d. Melanjutkan silaturahmi dengan orang-orang yang biasa dikunjunginya.

e. Menghormati dan memuliakan sahabat serta teman-teman lainnya.

3. Bersaksi Palsu

Pengertian menurut bahasa, kata saksi atau syahadah diambil dari kata musyahadah yang berarti : melihat dengan mata kepala. Pengertian saksi menurut istilah ialah pemberitahuan seseorang tentang apa yang dia ketahui dengan lafal ‘aku menyaksikan’ (asyhadu atau syahidtu).

Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Fiqhus Sunnah” menjelaskan hukum kesaksian adalah fardlu ‘ain bagi orang yang memikulnya bila ia dipanggil untuk itu dan dikhawatirkan kebenaran akan hilang. Akan tetapi, meskipun tidak dipanggil, tetap wajib hukumnya apabila tanpanya dikhawatirkan kebenaran akan hilang. Seseorang yang menyaksikan suatu peristiwa tidak boleh menyembunyikan kesaksiannya atau menjadi saksi palsu, yaitu bersaksi tidak sesuai dengan kejadian perkaranya (tidak sesuai fakta) sebagaimana firman SWT :

( ٢٨٣ : ﭐﻟﺒَﻘَﺮَﺓُ ) clip_image033…..

Artinya : “…dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“.

4. Sihir

Pengertian sihir menurut bahasa adalah mengalihkan. Menurut Ibnu Faris dalam Kitab “Al Misbah Al Munir”, sihir adalah memperlihatkan kebatilan dalam bentuk haq (kebenaran). Dalam al Mu’jam Al Wasith yang ditulis Ibrahim Mustafa disebutkan bahwa sihir adalah sesuatu yang memakai cara lembut dan halus.

Menurut istilah sihir dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Menurut Fakhrudin Ar Razi, sihir menurut istilah syara’ dikhususkan bagi sesuatu yang penyebabnya tidak terlihat atau samar, terbayang dalam wujud yang bukan sebenarnya, dan berlangsung melalui pemutar balikan fakta.

b. Menurut Ibnu Qudamah, sihir adalah bundelan (buhul), mantera-mantera, dan ucapan yang diucapkan atau ditulis mengerjakan sesuatu yang menimbulkan pengaruh pada badan, hati, atau akal orang yang terkena sihir dengan tidak menyentuhnya.

Para Ulama sepakat bahwa perbuatan sihir termasuk dosa besar yang harus dihindari atau dijauhi sebagaimana firman Allah SWT :

( ٤٣ : ﺳَﺒَﺎ ) clip_image035 ….

Artinya : “….Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata “

5. Mencuri dan Merampok

a. Mencuri

Mencuri adalah mengambil harta orang lain dengan jalan sembunyi-sembunyi atau diam-diam. Mencuri merupakan dosa besar dan wajib dihukum, yaitu dengan dipotong tangannya. Apabila seorang yang mencuri untuk pertama kalinya dan telah mencapai nishab kadar dari barang yang dicurinya, maka yang dipotong adalah tangan kanannya dari pergelangan tangan. Bila ia mencuri untuk kedua kalinya, maka yang dipotong adalah kaki kirinya dari ruas tumit. Bila ia mencuri yang ketiga kalinya, maka yang dipotong adalah tangan kirinya. Dan apabila ia mencuri yang keempat kalinya, maka yang dipotong adalah kaki kanannya. Apabila masih tetap mencuri, maka dipenjarakan sampai bertobat. Firman Allah SWT :

(٣٨ : ﭐﻟﻤَﺎﺋِﺪَﺓُ ) clip_image037

Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Syarat pencuri dipotong tangannya adalah sebagai berikut :

1) Pencuri sudah balig, berakal, dan melakukan pencurian itu dengan kehendaknya.

2) Barang yang sudah mencapai nishab (batas minimal ukuran barang yang dicuri) kira-kira seberat 93,6 gram, dan barang itu diambil dari tempat penyimpanannya.

b. Merampok

Perbuatan merampok atau merampas harta orang lain yang kadang diserta kekerasan, ancaman senjata, dan bahkan terjadi pembunuhan merupakan perilaku yang sangat menggelisahkan dan mengerikan, sehingga termasuk perbuatan haram dan merupakan dosa besar. Allah SWT berfirman dalam Q.S. An Nisa {4} : 93 ;

clip_image039

Artinya : “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya “

Oleh karena itu, tepat sekali penegasan Allah SWT yang tersebut dalam Al Qur’an bahwa perampok itu (orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi) dan termasuk kelompok hirabah, yaitu kelompok yang menyatakan perang terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka dianggap perang terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya karena yang mereka lakukan merupakan perbuatan melawan hukum Allah SWT dan mengganggu masyarakat yang dilindungi oleh hukum tersebut. Hal ini tercantum dalam Q.S. Al Maidah {5} : 33 ;

clip_image041

Artinya : “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar“.

[414]. Maksudnya ialah: memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.

Adapun hukuman bagi perampok terdiri dari 4 macam, yakni sebagai berikut :

1) Perampokan dengan membunuh orang yang dirampoknya dan diambil hartanya. Dalam hal ini hukumnya wajib dibunuh, kemudian disalibkan (dijemur).

2) Perampokan dengan membunuh orang yang dirampok, tetapi hartanya tidak diambil. Hukumannya dibunuh tanpa disalib.

3) Hanya mengambil hartanya saja yang sedikitnya satu nisab, sedangkan orangnya tidak dibunuh. Hukumannya dipotong tangan kanannya dan kaki kirinya.

4) Perampokan yang tujuannya hanya menakut-nakuti saja, hukumannya adalah dipenjara, atau hukuman lain berdasarkan pertimbangan hakim yang dapat memberinya pelajaran sehingga ia tidak mengulangi perbuatan itu kembali.

Lepasnya bagi pelaku tindak kejahatan dan perbuatan dosa dinyatakan dalam hadits Nabi SAW :

ﻋَﻦْﺃَﺑِﻲْﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَﺭﺽ،ﻋَﻦِﭐﻟﻨﱠﺒِﻲﱢﻗَﺎﻝَ؛۰۰۰ﻭَﻻَﻳُﺴْﺮِﻕُﺣِﻴْﻦَﻳَﺴْﺮِﻕُﻭَﻫُﻮَﻣُﺆْﻣِﻦٌ۰۰۰

( ﺭَﻭَﺍﻩُﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ )

Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW bersabda; “Tidaklah seorang pencuri ketika mencuri itu beriman.“ (H.R. Bukhari)

Kita wajib menjauhi perilaku mencuri apalagi mengambil dengan cara kekerasan, bahkan haruslah kita membenci perbuatan tercela tersebut. Di antara wujud membenci perbuatan tersebut dapat dilakukan melalui perilaku sebagai berikut :

a. Tidak menyakiti teman, baik secara fisik maupun perasaan, laki-laki maupun perempuan.

b. Tidak mau melakukan pencurian milik orang lain, bahkan kebiasaan menyembunyikan perlengkapan sekolah atau barang-barang teman sekolahnya.

c. Tidak mau menipu atau membohongi kawan, apalagi orang tua atau guru.

d. Tidak membiasakan diri dengan perilaku yang merugikan orang lain.

6. Membunuh

Hak-hak utama yang paling penting bagi setiap manusia yang dijamin oleh Islam adalah hak hidup, selanjutnya hak pemilikan, hak pemeliharaan kehormatan, hak kemerdekaan, hak persamaan, dan hak menuntut ilmu pengetahuan.

Di antara hak yang paling penting ialah hak hidup. Firman Allah SWT :

(٣٣ : ﭐﻹِﺳْﺮَﺍﺀُ ) …..clip_image043

Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar ….”

Dalam Islam, ada pembahasan tentang jinayat. Jinayat adalah perbuatan dosa besar, maksiyat, atau tindak kejahatan. Dalam Fiqih Islam, Jinayat adalah perbuatan yang dilarang syara’, baik mengenai jiwa, harta dan lain-lain. Islam memberikan perhatian terhadap perlindungan jiwa dan Allah mengancam orang yang merampas hal tersebut dengan hukuman yang berat. Allah SWT berfirman tersebut dalam Q.S. An Nisa {4} : 93 ;

clip_image039[1]

Artinya : “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya “

Dalam suatu yang disabdakan Rasulullah SAW, menyebutkan :

Adapun jenis-jenis pembunuhan dan hukumannya berdasarkan Al Qur’an dan Hadits, dijelaskan sebagai berikut :

a. (Al Qatlu bil ‘umdi / ﭐﻟْﻘَﺘْﻞُﺑِﺎﻟْﻌُﻤْﺪِ ) Pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja, merencanakan pembunuhan dalam keadaan jiwa sehat dan penuh kesadaran. Pembunuhan semacam ini dapat dihukum qisas artinya dihukum mati, kecuali dima’afkan oleh pihak keluarga korban dan kepadanya dituntut denda.

b. (Al Qatlu syibhul ‘umdi / ﭐﻟْﻘَﺘْﻞُﺷِﺒْﻪُﭐﻟْﻌُﻤْﺪِ ) Pembunuhan yang terjadi tanpa disengaja dengan alat yang tidak mematikan. Hukumannya adalah penjara atau denda yang cukup berat.

c. (Al Qatlu syibhul ‘umdi / ﭐﻟْﻘَﺘْﻞُﺑِﻐَﻴْﺮِﭐﻟْﻌُﻤْﺪِ ) Pembunuhan karena kesalahan atau kekhilafan semata-mata tanpa direncanakan dan tidak ada maksud sama sekali, misalnya kecelakaan. Hukumannya adalah penjara atau denda ringan.

Ada beberapa sikap yang harus dihindari agar tidak terjadi perselisihan, di antaranya sebagai berikut :

a) Mudah tersinggung

b) Memiliki wawasan sempit

c) Menutupi diri atau sulit menerima pendapat orang lain

d) Tidak bisa beradaptasi atau hidup dalam lingkungan majemuk

e) Tidak mau menerima kenyataan

f) Tidak siap menerima perkembangan zaman

g) Kurang informasi

h) Suka memaksakan kehendak

i) Merasa paling benar

j) Egois

k) Fanatik berlebihan

Untuk memperkecil peluang terjadinya hal-hal buruk, kita harus memupuk perilaku terpuji, baik terhadap diri peribadi mapun terhadap lingkungan atau masyarakat. Hal-hal di bawah ini dapat melatih diri kita untuk membentengi diri dari perilaku tercela, khususnya perbuatan membunuh :

a) Membisakan bersilaturahim

b) Mampu menahan amarah

c) Mampu mema’afkan kesalahan

d) Berbuat adil

e) Memperbanyak berbuat kebaikan

f) Suka menolong

g) Bersikap lemah lembut

h) Meninggalkan hal-hal yang menyangkut riba

i) Meneguhkan hati untuk mengikuti jalan yang lurus/benar

j) Memakan makanan yang halal dan thayyib

k) Senantiasa berdo’a kepada Allah SWT

l) Berlaku lurus terhadap manusia

m) Tidak pelit atau kikir

Sebenarnya masih banyak di antara dosa-dosa besar yang perlu diketahui serta harus dihindari agar jangan melakukannya, dengan banyak membaca keterangan dari ayat-ayat Al Qur’an, Hadits dan penjelasan para ulama, serta referensi yang luas. Maka tentunya dengan membaca, memahami dan menghindari perilaku buruk akan membawa kesematan hidup dunia dan akhirat.

TES FORMATIF 9

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar !

1. Uraikan pengertian dosa berdasarkan keterangan Al Qur’an ?

Jawab :

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

2. Bagaimana cara menghindari dari perbuatan dosa !

Jawab :

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

3. Apa saja kriteria yang tergolong dosa besar !

Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

4. Jelaskan macam-macam syirik !

Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

5. Bagaimana cara menghindari syirik !

Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

6. Jelaskan yang dimaksud dengan “uququl walidain” !

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

7. Apa saja perbuatan yang termasuk bentuk durhaka kepada orang tua ?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8. Apa yang dengan sihir !

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

9. Apa saja macam hukuman bagi perampok ?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

10. Ada 3 macam pembunuhan, jelaskan !

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

11. Sikap apa sajakah yang perlu dihindari agar tidak terjadi perselisihan ?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

TUGAS KEGIATAN BELAJAR 9

Diskusikan bersama teman-teman sekelompok belajarmu dan hasilnya kamu tulis dalam kertas atau dalam bukumu m,asing-masing!

1. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak yang kedua orang tuanya sudah sangat renta dan tidak berdaya/tidak dapat berbuat apa-apa?

2. Carilah beberapa berita (minimal 5) dari koran atau majalah yang memberitakan tentang kasus pembunuhan dan perampokan. Analisislah berita tersebut menyangkut aspek-aspek penyebabnya. Berikanlah solusi dan upaya pencegahannya !

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: